Selasa, 26 Mei 2015

ANALISIS KEJUJURAN DAN KEBIJAKSANAAN


*By. M. Mahfud M (Fboejel@yahoo.com)


Dalam kehidupan sehari-hari diri tidak lepas dari sebuah keinginan. Keinginan ini akan membentuk suatu tujuan dalam diri. Untuk berjalan, duduk, berlari, berdiri dan lain sebagainya tidak lepas dari sebuah tujuan dalam diri, apakah disadari atau tidak tujuan tersebut tetaplah melekat dalam diri. Tujuan muncul sebagai akibat dari respon diri terhadap dunia luar ataupun kebutuhan dalam diri yang kemudian di realisasikan melalui tubuh untuk mencapainya. Sehingga dikenallah istilah kerja keras dalam berusaha.
            Sekarang pertanyaannya dilandasi muatan apakah tujuan dalam diri? Apakah sebuah tujuan dilandasi oleh muatan positif atau negatif dalam hati? Pertanyaan ini muncul karena jika muatan awal dalam tujuan tersebut bermuatan negatif hasil akhirnya pun akan merusak tatanan keseimbangan dan harmonisasi dalam kehidupan, baik yang bersifat nyata atau abstrak. Begitupun jika muatan awal dalam tujuan tersebut bermuatan positif, hasil akhirnya pun akan menjaga harmonisasi dan keseimbangan dalam kehidupan.
            Kemudian pertanyaan berlanjut, darimanakah muatan positif atau negatif ini muncul dalam sebuah tujuan diri? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita lihat respon awal yang menjadi landasan munculnya tujuan tersebut. Respon ada dua macam yaitu respon yang bersumber dari luar dan respon yang bersumber dari dalam diri. Respon yang bersumber dari dalam diri yang menjelma menjadi tujuan, awalnya mempunyai kecenderungan bermuatan netral. Mengapa? Karena tujuan tersebut menggerakkan tubuh hanya untuk memenuhi keseimbangan tubuh kita, sebagai contohnya ketika kita mau kencing, secara spontanitas kita mempunyai tujuan untuk pergi ke kamar mandi untuk kencing. Tujuan tersebut muncul sebagai respon dari keinginan dalam diri tersebut.
Proses terjadi atau tidaknya keinginan =
1.    Kejadian dalam diri (Haus) à berkeinginan (pembentukan niat untuk minum atau tidak minum didasarkan berbagai pertimbangan) à melakukan proses untuk minum (tujuan) à merealisasikan tujuan (minum air yang sudah di depannya) à kejadian dalam diri (rasa hausnya hilang).
a.    Kejadian dalam diri (Haus) à berkeinginan (pembentukan niat untuk minum didasarkan berbagai pertimbangan) à bertujuan (melakukan proses untuk menemukan air) à merealisasikan (berhasil menemukan air kemudian meminumnya) à kejadian dalam diri (tidak haus)
b.    Kejadian dalam diri (haus) à berkeinginan (pembentukan niat untuk tidak minum didasarkan berbagai pertimbangan) à tujuan untuk minum di pending karena merealisasikan tujuan lain yang lebih penting (X) à realisasi (dipending) à kejadian dalam diri (haus).
2.    Kejadian luar diri (pengemis minta sumbangan) à berkeinginan (memberi / tidak memberi sumbangan didasarkan berbagai pertimbangan) à melakukan proses mengambil / tidak mengambil uang (bertujuan) à memberi / tidak memberi sumbangan (hasil) à kejadian luar diri (senang / kecewa)
a.    Kejadian luar diri (pengemis minta sumbangan (berharap dikasih)) à berkeinginan (memberi sumbangan didasarkan berbagai pertimbangan) à bertujuan (melakukan proses mengambil uang) à merealisasikan (memberi sumbangan pada pengemis) à kejadian luar diri (senang).
b.    Kejadian luar diri (pengemis minta sumbangan (berharap dikasih)) à berkeinginan (tidak memberi sumbangan didasarkan berbagai pertimbangan) à Tujuan (mencari alasan yang sesuai) à realisasi (minta maaf dg alasan pertimbangan tersebut) à kejadian luar diri (kecewa).
                                                ---------------------------------------------
Sehingga Proses terjadi atau tidaknya keinginan adalah
Respon dalam diri / luar diri à Keinginan (krenteking jero ati) à Tujuan dalam diri à realisasi à Respon dalam diri / luar diri.
Kuasa Tuhan à kuasa manusia à kuasa manusia à kuasa manusia à Kuasa Tuhan.
Tampak / abstrak à abstrak à antara nampak dan abstrak à nampak à nampak / abstrak.

Dari penjelasan tersebut, bahwa suatu respon baik dalam diri atau diluar diri merupakan kuasa Tuhan yang disajikan kepada manusia. Sebagai contoh diatas ada seorang pengemis yang mengharapkan sumbangan, disini kita sebagai manusia tidak punya kekuatan, keinginan untuk mendatangkan pengemis tersebut dan kejadian itu muncul begitu saja tanpa kehendak kita, sehingga ini menurut prespektif kita adalah kuasa Tuhan. Dalam menyikapi respon tersebut ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh manusia karena manusia diberi kuasa melalui hati, akal dan tubuh oleh Tuhan dalam menjaga keseimbangan dan keharmonisan di dunia. Respon awal yang disajikan Tuhan bermuatan netral. manusia melalui hati, akal, tubuh menjabarkan respon awal tersebut yang menghasilkan sebuah konsekuensi yang ditanggung oleh manusia. Dari contoh tersebut, misalnya jika kita memberi pengemis tersebut sumbangan akan muncul konsekuensi bahagia untuk si pengemis. Dan jika misalnya kita tidak memberikan sumbangan akan muncul konsekuensi kekecewaan bagi si pengemis.

Definisi Mahasiswa

By. M. Mahfud M (Fboejel@yahoo.com)

Ketika mendengar istilah Mahasiswa seolah-olah teringat dengan gelora muda, semangat pembaharu dan intelektualitas pembangun bangsa. Memang seperti itulah seharusnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa peran mahasiswa dalam menentukan arah sejarah bangsa telah banyak dicatat oleh sejarah Bangsa Indonesia. Tentunya semua mengetahui sebelum Indonesia merdeka, mereka para mahasiswa menyusun kekuatan, konsepsi dan strategi dalam menentukan arah gerak masyarakat Indonesia menuju kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pada masa itu mereka sudah terbiasa dengan pukulan, makian dan kekerasan dari penguasa kolonial. Mereka juga para mahasiswa menjadi cikal bakal perjuangan bangsa dengan pandangan maju dan modern, tidak seperti para pendahulunya. Perkumpulan-perkumpulan pelajar mulai didirikan dengan agenda besar menyadarkan masyarakat yang terjajah untuk bangkit dan mengambil haknya. Tercatat organisasi Budi Oetomo yang didirikan mahasiswa pada 20 Mei 1908 menjadi tonggak sejarah baru perjuangan bangsa yang hingga saat ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Selain itu pula, peristiwa sumpah pemuda pada Oktober 1928 yang tak lain merupakan spirit penyatuan bangsa tak lepas dari peran besar Mahasiswa yang ada di seluruh Nusantara. Tidak hanya itu saja peristiwa-peristiwa perubahan zaman bangsa Indonesia juga ditandai dengan bangkitnya mahasiswa, mulai dari peristiwa pendesakan kaum muda terhadap golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 hingga tahun 1998 tentang revormasi bangsa Indonesia. Semua tidak lepas dari peran besar mahasiswa dalam perjalanan  pembangunan bangsa.
Mahasiswa merupakan mereka yang belajar di suatu perguruan tinggi (Poerwodarminto, 2005:375). Sedangkan menurut Siswoyo (2007:121) mahasiswa merupakan manusia yang tercipta untuk selalu berfikir yang saling melengkapi. Berdasarkan pandangan tersebut dapat dimaknai bahwa mahasiswa merupakan pelajar yang menuntut ilmu di Perguruan Tinggi dan sederajadnya dengan segala daya intelektualitasnya berfikir dan saling melengkapi dalam mengembangkan gagasan pemikirannya. Mahasiswa sebagai kalangan pembaharu tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan perkembangan zaman pada masa kekinian. Mereka terbuka dengan segala pemikiran dan modernisasi yang berkembang sampai detik ini bahkan menjustifikasi kebaikan dan keburukan yang mereka yakini. 

Mahasiswa Sebagai Pengekor Zaman
Mahasiswa dalam artian pengekor zaman adalah mahasiswa yang setiap gerak langkahnya mengikuti aturan-aturan zaman yang dibuat oleh pemegang otoritas. Maksud dari aturan-aturan zaman adalah prosedur yang dibuat untuk mengatur mahasiswa dalam gerak dan mindset pemikirannya. Para mahasiswa dituntut untuk tuntas mengikuti semua step yang dibuat baik dalam perkuliahan maupun kewenangan diluar perkulihan entah benar atau menyimpang. 
Mahasiswa dengan kesadaran seperti ini banyak ditemui dilingkungan kampus. Mereka patuh dan mengikuti segala aturan yang ada, mereka tidak mempermasalahkan segala aturan yang dibuat meskipun menyimpang dari kepatutan. Mereka fokus pada bidang ilmu yang dipelajari dan berorientasi pada tuntutan pekerjaan yang akan dihadapi setelah lulus kuliah. Dengan kesadaran seperti itu menjadikan mereka pragmatis dan oportunis dalam menggapai segala keberhasilan yang menjadi fokus perhatiannya. Mereka lupa tanggungjawab sebagai mahasiswa pembangun bangsa, mereka lupa dengan nasib jutaan rakyat indonesia yang butuh uluran tangan dan pemikirannya.

PANCASILA IDEOLOGI UNTUK DUNIA



*By. M. Mahfud M (Fboejel@yahoo.com)


Hakekat Manusia
Manusia memerlukan unsur penyusun dalam mengarungi kehidupan di dunia. Manusia terdiri dari unsur tampak dan unsur abstrak. Badan atau raga adalah unsur tampak manusia yang tersusun dari kulit, daging, tulang, darah, cairan-cairan, zat-zat, sel-sel dan lain-lainnya yang menyokong kehidupan manusia. Sementara unsur abstrak manusia terdiri dari ruh, jiwa, nafsu (keinginan), fikiran serta unsur lain diluar pengetahuan yang menyusun manusia.
            Manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, melakukan suatu usaha dan interaksi dengan alam semesta. Dalam menjamin kehidupan raga atau badan manusia membutuhkan alam sebagai tempat memperoleh kehidupannya yaitu berupa kelengkapan hidup, makanan, dan tempat. Manusia melakukan usaha dan gerakan untuk memperoleh kehidupannya di alam semesta, namun gerakan raga manusia itu dikendalikan oleh nafsu (keinginan) untuk mencukupi kebutuhan raga atau badan manusia. Dengan dorongan keinginan manusia, manusia melakukan usaha-usaha untuk memudahkan kerja manusia dengan berfikir untuk memenuhi kebutuhan badannya. Seiring dengan tercukupinya kebutuhan badan manusia, dalam diri manusia timbul kekhawatiran akan kelangsungan hidupnya di masa yang akan datang. Akhirnya timbullah suatu pemikiran yang didasari keinginan pemenuhan kehidupannya mengumpulkan dan menimbun makanan untuk kelangsungan hidupnya di masa depan. Dalam fase inilah timbul persaingan antar manusia yang mempunyai kekhawatiran dan keinginan yang sama, sehingga terjadi perebutan kebutuhan hidup.
            Selain nafsu (keinginan) dan akal (pikiran), manusia dilengkapi dengan ruh. Ruh merupakan unsur Tuhan azazi yang bermanifestasi kedalam diri manusia. ruh dalam pengertian ini adalah sumber kehidupan bagi raga (badan), jiwa, nafsu (keinginan), dan akal (fikiran). Dengan adanya ruh, manusia yang terwakili oleh jiwa mampu berkomunikasi dengan ruh itu sendiri. Sehingga manusia secara sadar atau tidak diliputi oleh ruh itu sendiri, namun manusia yang terwakili jiwa mampu berbuat di luar komunikasi dan hubungannya dengan ruh, karena jiwa manusia terlalu sering berkomunikasi dengan nafsu (keinginan) yang ada dalam manusia, dan dengan baik memanfaatkan akal (fikiran) manusia untuk memanifestasikan keinginan kedalam realitas nyata (dunia) sehingga menjelma menjadi keserakahan. Jiwa yang mewakili manusia sempurna seharusnya dengan seimbang berkomunikasi dengan Ruh dan nafsu. Sementara akal (fikiran) akan merealisasikan segala komunikasi jiwa yang mewakili manusia melalui raga (badan) ke keadaan nyata di dunia.
            Dengan menjaga komunikasi antara ruh dan keinginan (nafsu) maka akan terjadi keharmonisan dalam kehidupan. Manusia tidak merasa khawatir dengan kelangsungan hidupnya, karena Tuhan telah mencukupi kebutuhan manusia. kemudian dalam menjalankan usaha untuk memenuhi kehidupannya manusia tidak berlebihan dalam berusaha bahkan sampai menjatuhkan orang lain, karena keinginan (nafsu) terkontrol dengan baik. Nilai kebajikan dan keadaan seimbang yang memunculkan keharmonisan dalam kehidupan itu terdapat dalam nilai-nilai keagamaan. Dengan setiap agama menjalankan tata cara keagamannya menurut kepercayaan masing-masing sesuai agama yang dianut. Sementara ditinjau dari nafsu (keinginan) berlebih dalam keduniawian saya berpendapat bahwa semua agama memerintahkan untuk tidak berlebihan dalam menuruti hawa nafsu keduniawian. Dengan demikian setiap agama di Indonesia menjadi basis ideologi Pancasila dalam menjalankan tatanan kehidupan yang harmonis dan berperadaban.

Negara dan Agama
Negara menjalankan tatanan kehidupan dan arah gerak bangsanya berlandaskan ideologi yang dianut. Ideologi di dunia ada banyak arah dan macamnya, ada ideologi religius, liberal, komunis, sosialis, kapitalis, pancasila serta ideologi lainnya. Dari semua ideologi tersebut Pancasila adalah ideologi yang dianut negara Indonesia. Ideologi Pancasila terdiri dari 5 sila yaitu: ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
            Pancasila adalah ideologi yang bercita-cita mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat dengan basis utama nilai keagamaan yang beragam. Dalam ideologi Pancasila menuntut rasa toleransi keberagaman, rasa kebersamaan dalam keberbedaan, dan rasa persatuan dalam kemajemukan. Untuk mencapai itu semua setiap rakyat harus sadar, setiap rakyat harus tau, setiap rakyat harus melihat bahwa dalam suatu negara Indonesia itu beragam. Ada islam, ada kristen, ada hindu, ada budha, ada protestan, ada konghuchu, ada kulit warna kuning langsat, ada sawo matang, ada hitam, ada yang berambut lurus, kriting, dan seribu keberbedaan adat, budaya, ras, dan bahasa yang lainnya. Itulah ideologi Pancasila yang berdiri diatas keberbedaan namun sejatinya satu.

            Agama dalam ideologi pancasila memegang peranan vital dalam pembangunan karakter bangsa. Posisi agama dalam ideologi pancasila sebagai sumber dan unsur pembangun pancasila. Tanpa agama (keyakinan) tidak bisa dikatakan Pancasila. Namun agama tidak lantas mengunggulkan dan mendeklarasikan sistem tatanan keagamaannya dalam sistem pemerintahan negara Indonesia. sistem ketatanegaraan yang ber-ideologi Pancasila adalah sesuai nilai-nilai Pancasila dengan mempertimbangkan dan mengindahkan keberbedaan, keberagaman Indonesia. sehingga tercipta keharmonisan dalam keberbedaan. Fanatisme keagamaan, fanatisme kesukuan, fanatisme kebudayaan, fanatisme kekelompokan diarahkan dalam kerangka Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, demokrasi serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. jadi, Pancasila sebagai ideologi negara adalah alat pemersatu bangsa tanpa mengesampingkan segala keberbedaan yang ada di Indonesia. setiap warga negara Indonesia mempunyai hak yang sama dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Minggu, 07 Desember 2014

GERPOLEK (Gerilya - Politik - Ekonomi) By Tan Malaka (1948)



KATA PENGANTAR
Sudah kepinggir kita terdesak!
Sampailah konon sisa-ruangan yang tinggal bagi kita dalam hal politik, ekonomi, keuangan, dan kemiliteran.
Inilah hasilnya lebih dari pada dua tahun berunding!
Lenyaplah sudah persatuan Rakyat untuk menentang kapitalisme-imperialisme! Lepaslah sebagian besar daerah Indonesia ke bawah kekuasaan musuh. Kembalilah sebagian besar bangsa Indonesia ke bawah pemerasan-tindasan Belanda. Berdirilah pelbagai Negara boneka dalam daerah Indonesia, yang boleh diadu-dombakan satu dengan lainnya! Kacau-balaulah perekonomian dan keuangan dalam daerah Republik sisa. Akhirnya, tetapi tak kurang pula pentingnya terancamlah pula Tentara Republik oleh tindakan REORGANISASI DAN RATIONALISASI yang dalam hakekatnya menukar Tentara Republik menjadi tentara Kolonial: SATU TENTARA TERPISAH DARI RAKYAT UNUTK MENINDAS RAKYAT ITU SENDIRI.
Alangkah besar perbedaannya keadaan sekarang dengan keadaan pada enam bulan permulaan Revolusi!
Dikala itu 70 juta Rakyat Indonesia bertekat satu menentang kapitalisme/imperialisme! Segala alat dan sumber kekuasaan berada di tangan Rakyat Indonesia. Semua sumber ekonomi dipegang oleh Rakyat sendiri. Seluruhnya Rakyat serentak mengambil inisiatif membentuk laskar dan Tentara, mengadakan penjagaan di sepanjang pantai dan di tiap kota dan desa dan serentak-serempak mengadakan pembelaan dan penyerbuan!
Dapatkah dikembalikan semangat 17 Agustus?
Sejarah sajalah kelak yang bisa memberi jawab!
Tetapi sementara putusan Sejarah itu dijalankan, maka kita sebagai manusia dan anggota masyarakat ini tak boleh diam berpangku tangan saja melihat gelombang memukul-mukul geladak Kapal Negara, yang sedang terancam karam itu.
Saya rasa salah satunya Daya-Upaya untuk menyelamatkan Kapal Negara yang terancam karam itu, ialah pembentukan Laskar Gerilya dimana-mana, di darat dan di laut! Perasaan perlunya dibentuk laskar Gerilya dimana-mana itulah yang sangat mendorong saya, merisalah “SANG GERILYA” ini!
Malangnya sedikit, penulis ini bukanlah seorang Ahli-Kemiliteran. cuma ada sedikit banyak bergaul dengan prajurit di dalam ataupun di luar negeri dan memangnya selalu tertarik oleh ilmu kemiliteran.
Pengetahuan yang dipakai buat membentuk risalah ini adalah pengetahuan yang diperoleh dari percakapan dengan para prajurit itu serta dari pembacaan Buku dan Majalah Kemiliteran. Tetapi bukanlah hasil pembacaan yang masih segar-bugar. Melainkan sebagian besarnya adalah hasil pembacaan lebih dari pada 30 tahun lampau.
Tertumbuklah kemauan penulis ini hendak menjadi opsir di masa berusia pemuda di Eropa, pada pelbagai halangan dan rintangan maka terbeloklah perhatian kepada pembacaan beberapa Buku dan Majalah Militer, dalam suasana Perang-Dunia Pertama. Pengetahuan yang diperoleh di masa itulah yang masih dipegang sekarang!
Pengetahuan itu memangnya mendapat beberapa perubahan selama bertahun-tahun di luar Negeri. Tetapi tinggal pengetahuan lama dan keadaan berada di antara empat tembok batu di belakang ruji-besi ini sama sekali tak ada pustaka kemiliteran, untuk menguji kembali pengetahuan yang dipergunakan dalam Risalah ini sebagai bahan.
Dalam keadaan begini, maka mungkin sekali beberapa Hukum Keprajuritan, yang terpaksa dibentuk sendiri itu kurang tepat atau kurang memadai. Tetapi mengharap dan percaya sungguh, bahwa para Ahli dan Pahlawan akan mengambil yang baiknya saja dan akan membuang yang buruk; seterusnya akan menambah yang kurang dan mengurangi yang berlebih. Kami mengharap dan percaya pula, bahwa para Ahli dan Pahlawan akan memaafkan semua kekurangan dan kesalahan kami.
Pokok perkara buat kami dalam keadaan terpaksa terpisah dari Masyarakat ini, bukanlah terutama MENYELESAIKAN soal Militer, sebagai bagian terpenting dari Revolusi ini, tetapi untuk MEMAJUKAN soal ini.
Mudah-mudahan para-teman-seperjuangan yang lebih ahli dan lebih berpengalaman dalam keprajuritan itu, kelak akan mengambil inisiatif mengarang buku kemiliteran itu, yang lebih sempurna. Buku semacam itu perlu sekali buat mempopulerkan ilmu-keprajuritan di antara Rakyat serta Pemuda kita justru sekarang ini!
Perkara latihan dan teknik Perang sengaja tiada kami majukan disini! Dalam hal ini latihan-Jepang selama dua-tiga tahun dan teristimewa pula latihan dan teknik perang selama dua-tiga tahun bertempur di medan peperangan Indonesia yang sesungguhnya itu, kami rasa sudah lebih dari pada memadai, dan diketahui oleh pulu ribuan prajurit kita sekarang.
Yang kami majukan disini cuma beberapa Hukum-Kemiliteran yang kami rasa amat penting! Hukum Kemiliteran itulah, disamping pengetahuan yang lain-lain tentang politik dan ekonomi yang kami rasa harus dimiliki oleh SANG GERILYA, sebagai anggota atau pemimpin Laskarnya.
Taktik Gerilya yang mengacau-balaukan Tentara Napoleon di Spanyol pada abad yang lalu; taktik Gerilya sekepal Laskar-Boor yang mengocar-kacirkan Tentara Inggris yang kuat-modern pada permulaan abad ini di Afrika-Selatan, taktik Gerilya yang memusing-menggila-bingungkan Tentara ber-mesinnya Fasis Jerman di Rusia pada perang Dunia kedua yang baru lalu ini ……………. Taktik dan Laskar Gerilya adalah senjata yang maha-tajam bagi Rakyat Miskin tertindas; bersenjata serba sederhana saja, untuk menghalaukan musuh yang bersenjatakan modern.
Mudah-mudahan Risalah, yang tertulis tergesa-gesa dalam keadaan serba sulit ini akan memberikan faedah kepada pemuda/pemudi, pahlawan-perwira pembela bangsa dan Masyarakat-Murba Indonesia Raya!
Rumah Penjara Madiun, 17 Mei 1948


Penulis
T A N   M A L A K A



I. REPUBLIK INDONESIA KEDALAM DAN KELUAR

DUA MUSIM REVOLUSI
Banyak sekali perubahan, yang diderita oleh REPUBLIK INDONESIA, semenjak lahirnya pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 sampai sekarang 17 Mei 1948. Dalam 2 ¾ (dua tiga perempat) tahun berdirinya itu, maka merosotlah Republik itu dalam arti politik, ekonomi, kemiliteran, diplomasi dan semangat. Jika usianya republik kita bagi atas dua periode (musim) maka terbentanglah di depan mata kita musim JAYA BERJUANG dan musim RUNTUH BERDIPLOMASI.
Musim-jaya-bertempur jatuh pada kala, antara 17 Agustus 1945 sampai 17 Maret 1946. Berkenaan dengan peristiwa politik, maka tempoh jaya-bertempur itu terletak antara PROKLAMASI kemerdekaan dengan PENANGKAPAN para pemimpin Persatuan Perjuangan di Madiun. Musim-runtuk berdiplomasi jatuh pada kala antara 17 Maret 1946 sampai sekarang 17 Mei 1948. berkenaan dengan perstiwa politik, maka tempoh runtuh berdiplomasi itu terletak antara PENANGKAPAN Madiun dengan PERUNDINGAN sampai sekarang.
APAKAH DASAR UNTUK PEMBAGIAN ATAS DUA MUSIM ITU BERSAMAAN DENGAN POLITIK?
JAWAB: Penangkapan para pemimpin Persatuan Perjuangan berarti suatu percobaan pemerintah Republik menukar perjuangan MASSA AKSI atau AKSI MURBA dengan AKSI BERDIPLOMASI. Menukar diplomasi BAMBU RUNCING dengan DIPLOMASI BERUNDING. Menukar sikap “BERUNDING ATAS PENGAKUAN KEMERDEKAAN 100%” dengan sikap “MENCARI PERDAMAIAN DENGAN MENGORBANKAN KEDAULATAN, KEMERDEKAAN, DAERAH PEREKONOMIAN DAN PENDUDUK” yang pada musim jaya bertempur semuanya ini sudah 100% berada di tangan bangsa Indonesia. Tegasnya menukar sikapnya bertempur terus sebagai musuh lenyap berkikis dari seluruhnya daerah Indonesia dengan sikap menyerah terus menerus buat mendapatkan perdamaian dengan musuh.
APAKAH DASAR UNTUK PEMBAGIAN ATAS DUA MUSIM BERKENAAN DENGAN EKONOMI?
JAWAB: Menukar tindakan yang sudah mengembalikan semua milik musuh ke tangan rakyat Indonesia, yang berhak penuh atas MILIK MUSUH  dengan usaha mengembalikan MILIK ASING walaupun MUSUH. Menukar kehendak membangunkan ekonomi atas Rencana sendiri, Tenaga sendiri, dan Bahan sendiri untuk Kemerdekaan seluruhnya Rakyat Indonesia dan kebahagiaan dunia lain dengan usaha KERJA-SAMA dengan KAPITALIS-IMPERIALIS BELANDA, yang sudah 350 tahun memeras dan menindas Rakyat Indonesia.
APAKAH DASAR UNTUK PEMBAGIAN ATAS DUA MUSIM BERDEKAAN DENGAN DIPLOMASI?
JAWAB: Menukar serangan terus menerus baik secara GERILYA ataupun secara GERAK-CEPAT (Mobile warfare) dengan maksud menghalaukan atau menghancurkan musuh dengan tindakan “CEASE-FIRE-ORDER” (gencatan senjata) dan tindakan mengosongkan “KANTONG”. Tegasnya menukar siasat keprajuritan yang bisa MELEMAHKAH dan akhrinya MENAKLUKKAN MUSUH  dengan siasat yang MEMBERI KESEMPATAN PENUH KEPADA MUSUH  untuk memperkokoh kedudukan dirinya sendiri serta memperlemah kedudukan kita.
APAKAH DASAR UNTUK PEMBAGIAN ATAS DUA MUSIM BERKENAAN DENGAN KEMILITERAN?
Berhubung dengan keterangan bekas perdana menteri Amir Sjarifudin dalam Sidang Mahkamah Tentara Agung dalam pemeriksaaan peristiwa 3 Juli, maka nyatalah bahwa penangkapan para pemimpin Persatuan Perjuangan di Madiun ada hubungannya dengan Diplomasi-Berunding. Menurut keterangan Amir Sjarifudin penangkapan tersebut dilakukan oleh Pemerintah Republik berdasarkan SIFAT PERMINTAAN dari DELEGASI INDONESIA.
DELEGASI adalah satu Badan Perantaraan Republik yang berhubungan dengan wakil Inggris dan Belanda di masa itu.
SURAT PERMINTAAN menangkap rupanya bukanlah atas inisiatif Pemerintah Republik. Kalau begitu maka surat-permintaan itu mestinya sebagai suatu “Concessie” (penyerahan hak) dari pihak Republik kepada Inggris-Belanda atas desakan Inggris-Belanda itu. Dalam hakekatnya maka pemerintah sudah menerima “permintaan” Negara-Musuh buat menangkap warga-negaranya sendiri. Cuma celakalah warga-negara yang menjadi korban concessie itu dan lebih celakalah pula, Negara Indonesia yang terlanggar kedaulatannya itu.
APAKAH AKIBAT PERTUKARAN SIKAP-TINDAKAN BERJUANG ITU DENGAN SIKAP-TINDAKAN-BERUNDING?
Pada sekalian pulau di Indonesia, dalam seluruhnya masyarakat dan pada tiap-tiap partai badan ketentaraan dan kelaskaran semangat berinisiatif, tabah-barani, dan bersatu menyerang bertukar menjadi semangat passief menerima, melempem, pecah belah dan curiga mencurigai.
PERHITUNGAN (BALANS)
Jika kita mengadakan perhitungan laba-rugi semenjak pertukaran musim jaya-berjuang dengan musim runtuh-diplomasi, dalam hal politik, ekonomi, militer dan sosial, maka kita akan memperoleh gambaran lebih kurang seperti berikut:
1. POLITIK.
A. Dalam hal Daerah.
Di-Musim-Jaya-Berjuang.
Seluruhnya tanah yang lebih dari 700.000 mil persegi serta tanah dan pir yang lebih kurang 4.500.000 mil persegi itu berada di bawah kedaulatan Republik.
Di-Musim-Runtuh-Berunding.
Cocok dengan pengakuan “de facto” Linggarjati, maka tanah Jawa-Sumatra yang berada di bawah kekuasaan Republik luasnya cuma 210.000 mil persegi atau 30% dari seluruhnya daratan Indonesia. Dengan laut di pesisir Jawa / Sumatra kita menerima 225.000 mil persegi, atau + 1/20 = 5 % dari Tanah dan Air seluruhnya Indonesia.
Tetapi dengan perjanjian Renville, maka hasil perundingan tadi sudah merosot lebih rendah lagi. Enam atau tujuh daerah di Jawa terpencar dari – dan beberaa daerah di Sumatera belum lagi lebih dari 2% dari pada seluruhnya Tanah dan Lautan Indonesia.
B. TENTANGAN PENDUDUK.
Di-Musim-Jaya-Berjuang.
Semuanya penduduk yang jumlahnya 70 juta berada di bawah kedaulatan Negara Republik Merdeka.
Di-Musim-Runtuh-Berjuang.
Dengan menerima “de facto” Jawa, Sumatera, maka Republik AKAN menerima kasarnya 50 juta penduduk. Ini AKAN berarti sedikit lebih 70% penduduk.
Tetapi dengan penandatanganan RENVILLE dan langsung berdirinya atau akan berdirinya Empat atau lebih “Negara” Baru dalam daerah Jawa-Sumatra sendiri (ialah: Negara Sumatera Timur, Negara Jawa Barat, Negara Jawa Utara, Negara Jawa Timur (Blambangan), Negara “Batavia” dll) maka Republik akan meliputi paling mujurnya cuma 23 juta jiwa. Jadi kasar cuma 33% dari seluruhnya Indonesia.
2. EKONOMI.
A. TENTANG PRODUKSI.
Di-Musim-Jaya-Berjuang.
Semua kebun (getah, kopi, kina, sisal dll) semuanya tambang (minyak, arang, timah, bauxit, emas, perak dll), baik kepunyaan musuh ataupun sahabat berada di bawah kekuasaan Republik.
Di-Musim-Runtuh-Berunding.
Perjanjian Linggarjati dan Renville mengakui pengembalian Hak Milik Asing itu baikpun Milik Negara Sahabat, ataupun Miliknya Negara Musuh, ialah sesuatu Negara yang memasukkan tentaranya ke daerah Republik.
B. TENTANGAN PERHUBUNGAN.
Di-Musim-Jaya-Berjuang.
Semuanya alat pengangkutan di darat dan di laut dimiliki dan dikuasai oleh Republik.
Cuma auto, truk dan kereta untuk pengangkutan orang dan barang dari desa ke kota, ke pelabuhan dan semua perahu atau kapal yang ada atau yang akan dibikin untuk pengangkut orang dan barang dari pulau ke pulau dan kelak dari Indonesia ke Negara lain berada di tangan Rakyat Indonesia. Dengan demikian maka alat perdagangan yang terpenting dikuasai oleh Republik. Dengan adanya sebagian besar dari kebun, tambang, pabrik, alat pengangkutan serta pelbagai Bank di tangan Republik maka dengan cepat Rakyat Indonesia dapat melenyapkan kemundurannya dalam ekonomi. Dengan cepat pula Rakyat Indonesia dapat mengejar kemakmuran yang cukup tinggi buat tiap-tiap orang.
Di-Musim-Runtuh-Berunding.
Menurut Linggarjati dan Renville, maka Belanda berhak menuntut haknya kembali atas miliknya di Indonesia. Dengan demikian maka kelak Belanda akan mendapat kesempatan sepenuhnya menguasai kembali pengangkutan di daratan dan/atau di lautan Idnonesia. Dengan begitu maka Belanda dengan kebun, pabrik dan tambang serta semua Bnak yang ada di tangannya akan kembali menguasai perdagangan baik ke dalam ataupun ke luar Indonesia seperti pada zaman “HINDIA BELANDA” sekarangpun selama musim perundingan ini, Belanda sudah dengan AMAN sekali memiliki dan menguasai hampir semua kebun, semua tambang semua pabrik dan semua pelabuhan penting di Indonesia ini. Dengan begitu maka hampir semua export dan import berada ditangannya. Dengan memblokade Republik, maka perekonomian Republik mendapat hambatan yang hebat.
3. MILITER.
Di-Musim-Jaya-Berjuang.
Semua gunung, lapangan terbang yang penting buat pertahanan tentara dan Angkatan Udara, beserta pelbagai senjata berada di tangan rakyat serta pemuda Republik. Semua pelabuhan yang penting buat perdagangan dan pembelaan tetap berada di tangan Republik, semua senjata dari granat tangan sampai bom-peledak dari pistol sampai ke meriam, dari kapal perang sampai ke pesawat terbang dengan “BAMBU RUNCING” sebagai modal pertama, direbut oleh Rakyat/Pemuda dari Jepang dan Inggris.
Di seluruh kepulauan Indonesia tak ada bandar, kota dan desa yang terbuka bagi musuh. Tak ada lagi jalan yang tiada dihalangi dengan 1001 macam penghalang, sehingga mustahil buat MENCEDERA Rakyat/Pemuda yang siap sedia.
Di-Musim-Runtuh-Berunding.
Semuanya pelabuhan penting berkah diplomasi di Surabaya, Semarang, Jakarta, Palembang, Medan dan lain-lain Pelabuhan jatuh ke tangan Belanda.
Tiada berapa lagi banyaknya lapangan terbang yang berada di tangan Republik, yang dapat dipergunakan. Dengan mengosongkan “kantong” di Jawa Barat dan Jawa Timur, serta beberapa tempat di Sumatera, maka Belanda dengan ujung lidah dapat menguasai tempat yang dengan tank, meriam dan pesawat berbulan-bulan tak dapat direbutnya.
Dengan terus menerus mengirimkan bala-bantuan dan mengusulkan “gencatan senjata” kalau terdesak ke laut dan mendapatkan “rasionalisasi” dari pihak Republik, maka Belanda berada dalam kedudukan jauh lebih kuat dari pada ketika gencatan Perang pertama pada bulan Oktober tahun 1946.
4. SOSIAL-POLITIK.
Di-Musim-Jaya-Berjuang.
Perpecahan di antara Partai dan Partai, Badan dan Badan serta Laskar dan Laskar yang timbul pada permulaan Revolusi oleh “PERSATUAN PERJUANGAN”, yang didirikan pada tangal 4-5 Januari 1946 di Purwokerto dapat dipersatukan kembali. 114 organisasi yang terdiri hampir semua Partai, Badan dan Ketentaraan bergabung dalam Persatuan Perjuangan untuk menentang musuh bersama atas dasar MINIMUM PROGRAM yang disetujui Bersama.
Di-Musim-Runtuh-Berunding.
Baru saja perundingan dimulai dan “Persatuan Perjuangan” diganti dengan “Konsentrasi Nasional”, maka timbullah pertentangan tajam antara yang setuju dengan perjanjian Linggarjati dan yang Anti-perjanjian tersebut. Partai pecah menjadi golongan yang pro dan yang anti terhadap Persetujuan Linggarjati. Sekarang (Mei 1948) kita mendengar nama Sayap Kanan, Sayap Kiri dan aliran “lebih Kiri dari Kiri”. Hampir tiap-tiap partai pecah. Pula PKI sudah pecah menjadi tiga macam, PKI lama, PKI Merah dan PKI. PBI pecah dua Partai Sosialis pecah dua pula dsb. Entah berapa front didapat sekarang dan entah berapa pula Sarekat Sekerja yang sekarangnya bersatu itu. Semua perpecahan itu memudahkan Belanda memasukkan kolonne ke 5-nya ke dalam semua Badan, Kelaskaran dan Partai sampai ke dalam Tentara, Adminitrasi dan Pemerintah.
KESIMPULAN.
Dengan adanya kedaulatan di tangan Raja Belanda menurut Linggarjati serta adanya nanti kurang atau lebih dari selusin Negara Boneka, dengan kembalinya kelak hampir semua kebun, pabrik, tambang, dan alat pengangkutan serta Bank di tangan Asing, dengan beradanya hampir semua tempat, yang mengandung banyak bahan-logam dengan aman di daerah pendudukan Belanda, dengan adanya kekuatan militer Belanda di bumi Indonesia serta blokkade yang terus dilakukan oleh Belanda terhadap Republik, dengan mudah masuknya kolonne ke-5 Belanda ke dalam organisasi, administrasi, kemiliteran serta pemerintahan Rakyat Indonesia, maka menurut Rencana Renville itu sekarang tak akan lebih dari pada 10% kekuasaan lahir yang masih berada di tangan Republik Indonesia.

II. G E R P O L E K.
Apakah artinya GERPOLEK?
Gerpolek adalah perpaduan (Persatuan) dari suku pertama dari tiga perkataan, ialah Gerilya, Politik, dan Ekonomi.
Apakah gunanya GERPOLEK?
GERPOLEK adalah senjata seorang Sang Gerillya buat membela PROKLAMASI 17 Agustus dan melaksanakan Kemerdekaan 100 % yang sekarang sudah merosot ke bawah 10 % itu!
Siapakah konon SANG GERILYA itu?
SANG GERILYA, adalah seorang Putera/Puteri, seorang Pemuda/Pemudi, seorang Murba/Murbi Indonesia, yang taat-setia kepada PROKLAMASI dan KEMERDEKAAN 100 % dengan menghancurkan SIAPA SAJA yang memusuhi Proklamasi serta kemerdekaan 100 %.
SANG GERILYA, tiadalah pula menghiraukan lamanya tempoh buat berjuang! Walaupun perjuangan akan membutuhkan seumur hidupnya, Sang Gerilya dengan tabah-berani, serta dengan tekad bergembira, melakukan kewajibannya. Yang dapat mengakhiri perjuangannya hanyalah tercapainya kemerdekaan 100 %.
SANG GERILYA, tiadalah pula akan berkecil hati karena bersenjatakan sederhana menghadapi musuh bersenjatakan serba lengkap. Dengan mengemudikan TAKTIK GERILYA, Politik dan Ekonomi, tegasnya dengan mempergunakan GERPOLEK, maka SANG GERILYA merasa HIDUP BERBAHAGIA, bertempur-terus-menerus, dengan hati yang tak dapat dipatahkan oleh musim, musuh ataupun maut.
Seperti Sang Anoman percaya, bahwa kodrat dan akalnya akan sanggup membinasakan Dasamuka, demikianlah pula SANG GERILYA percaya, bahwa GERPOLEK akan sanggup memperoleh kemenangan terakhir atas kapitalisme-imperialisme.

III. JENISNYA PERANG.
Cocok dengan hasratnya Negara yang berperang-perangan, baiklah peperangan itu  kita bagi atas dua jenis saja. Pembagian yang dimaksudkan itu berdasarkan pertentangan yang nyata. Jadi bagian yang satu sama lainnya, tiadalah tutup-menutupi, melainkan benar-benar berpisah-pisahkan.
PERANG JENIS PERTAMA, ialah: Perang yang dilakukan oleh satu Negara Ceroboh terhadap Negara lain dengan maksud memeras dan menindas Negara lain itu.
PERANG JENIS KEDUA, ialah: Perang yang disambut oleh satu Negara yang diserang untuk mengelakkan diri dari serangan atau bagi membebaskan diri dari pemeras dan penindas Negara lain yang sudah berlaku.
Kita namakan saja Perang jenis-pertama itu PERANG PENINDASAN dan Perang jenis-kedua itu PERANG KEMERDEKAAN. Syahdan maka kebanyakan peperangan dijalankan di zaman feodal itu dikala NEGARA REBUT NEGARA, di benua Asia, Afrika dan Eropa, yang banyak kita kenal dalam cerita dan dongeng adalah Perang Penindasan. Perang Penindasan yang dilakukan di zaman kapitalisme ini kita sebut PERANG IMPERIALISME. Hasratnya peperangan imperialisme itu ialah:
Pertama: untuk merebut bahan-pabrik serta bahan makanan dari Negara yang hendak ditaklukkan itu.
Kedua : untuk merebut pasarannya Negara Takluk dan Negara jajahan itu buat menjualkan barang pabriknya Negara Menang atau Negara Penjajah.
Ketiga: Untuk menanamkan modal kaum penjajahan dalam kebun tambang, pabrik, pengangkutan, perdagangan serta Bank Asuransinya di jajahan dan dikuasainya itu.
Ketiga hasrat itu pada satu pihak menyebabkan bertambah kaya-raya dan kuasanya kaum-kapitalis di Negara Penjajah itu. Di lain pihak menyebabkan bertambah miskin, melarat dan bodohlah Rakyat di jajahan itu. Tetapi sebaliknya pula dengan bermerajalelanya kemelaratan dan tindasan itu, maka timbullah pula gerakan kemerdekaan buat melepaskan diri dari pada pemerasan dan tindasan itu. Gerakan kemerdekaan itu pada satu tempo di satu tempat bisa meletus menjadi perang kemerdekaan. Perang Kemerdekaan itulah yang tadi di atas kita masuklah ke dalam Jenis-Kedua.
Baik di zaman feodal ataupun di zaman kapitalisme ini Perang Kemerdekaan itu sering pula terjadi. Perang Kemerdekaaan itupun boleh pula kita bagi atas dua golongan, ialah:
Pertama: Perang Kemerdekaan yang dilakukan oleh penduduk Jajahan melawan Negara Penjajahan buat melepaskan belenggu yang dipasangkan oleh Negara Penjajahan itu atas dirinya. Perang Kemerdekaan semacam ini sering disebut juga PERANG KEMERDEKAAN NASIONAL. Perang Kemerdekaan Nasional yang masyur sekali di abad ke-18, ialah perang kemerdekaan yang jaya, antara Amerika Terjajah dan Inggris Penjajah. Lamanya Perang itu adalah lebih kurang tujuh tahun. Tetapi perang kemerdekaan nasional di Amerika tiadalah berlaku antara dua bangsa yang berlainan, melainkan di antara satu bangsa, ialah bangsa Anglo Saxon.
Kedua: Perang Kemerdekaan oleh satu kelas dalam Negara melawan kelas lain di antara sesama bangsa dan di dalam satu Negara. Perang Kemerdekaan semacam ini disebut juga PERANG SAUDARA atau PEPERANGAN SOSIAL. Perang saudara atau perang sosial ini mempunyai dua corak pula. Yang pertama bercorak BORJUIS dan yang kedua bercorak PROLETARIS. Contoh yang masyhur buat perang kemerdekaan borjuis berlaku di Perancis pada tahun 1789 sampai 1848. Pada perang saudara atau perang sosial ini kaum borjuis melawan kaum feodal dan pendeta. Perang kemerdekaan yang meletus pada tahun 1789 ini terakhir lebih kurang pada tahun 1848 dengan kemenangan kaum borjuis. Contoh yang agak masyhur pula buat perang proletar terdapat di Perancis pula, ialah pada tahun 1871. Dalam perang kemerdekaan proletaris ini, kaum proletar Paris merebut dan memegang kekuasaan di kota Paris selama kurang lebih 72 hari saja. Di Rusia pada tahun 1917 berlakulah berturut-turut revolusi-borjuis dan revolusi (perang) kemerdekaan proletaris. Pada tingkat pertama kaum borjuis menyingkirkan kaum feodal dan pada tingkat kedua kaum proletar dengan kekerasan menghancur-leburkan keduanya kaum feodal, pendeta dan kaum borjuis. Ada pula orang menyebut-nyebut perang ideologis! Tetapi kalau ditinjau lebih dalam, maka perang-ideologispun mengandung dasar yang nyata, ialah hasrat politik dan ekonomi yang mengakibatkan atau mewujudkan dan keuntungan politik dan ekonomi juga.