Senin, 24 Februari 2014

Sejarah Perbudakan di Amerika

Oleh: Moh Mahfud Musthofa

Latar Belakang Perbudakan di Amerika
            Pada awalnya perbudakan orang kulit putih terhadap orang – orang negro serta prakrik-praktiknya telah berlangsung sejak zaman kuno. Dimana praktik tersebut dilakukan oleh orang mesir terhadap orang negro di afrika. Budak tersebut digunakan tenaganya didaerah pertanian dan di tempat kuil-kuil.
            Perbudakan merupakan suatu lembaga sosial, dimana seluruh hak dan sifat dasar kemunausiaannya dikuasai mutlak oleh tuannya. Baik fisik maupun hak kemanusiaan telah beralih kepada penguasaan mutlak pemiliknya. Kemudian makna budak itu sendiri adalah oarang yang dianggap dan disamakan dengan barang milik, hak kemanusiaan sebagai hak dasar yang bersifat kodrati telah dirampas oleh orang lain (pemiliknya). Banyak faktor yang menyebabkan seorang harus menjalani hidup sebagai seorang budak, anatar lain faktor ditawan karena kalah dalam suatu peperangan, dijual atau dilahirkan oleh orang tua yang berstatus sebagai budak dan juga berhutng kemudian tidak mampu melunasinya.
            Perbudakan yang terjadi diamerika selatan dianggap sebagai lembaga legal, ini juga diperkuat dengan undang-undang mengenai perbudakan, yang telah diatur bersama oleh negara bagian yang dinamakan the black codes. Didalam masyarakat pertanian terutama didaerah bagian amerika sebelah selatan yang banyak bermata pencaharian sebgai masyarakat perkebunan dan pertanian sangat membutuhkan jasa budak untuk diperkerjakan sebagai alat produksi, yang tujuannya tidak lain adalah memperoleh keuntungan yang seluas-luasnya. Dengan keadaan tanpa kebebasan ini para budak juga mendapat perlakuan yang kejam dan sewenang-wenang dari majikannya, bisa dibayangkan kehidupan budak pertanian dan perkebunan saat itu sangat tragis dan menderita.
            Pada awalnya budak yang dipekerjakan di amerika bagian seltan berasal dari afrika barat. Dimana di afrika barat ini penduduk bekerja dari hasil pertanian, disamping menangkap ikan dan berburu. Hasil pertanian diwilayah afrika barat ini biasanya gandum, kapas, padi dan ketela. Kerajaan yang berdiri pada masa itu adalah kerajaan shonghai, ghana, wangdhudhu, hausa dan mandingu, yang nantinya dikenal dengan nama ghana. Dari kerjaan ini dapat diambil sebuah fakta bahea setiap penguasa mempunyai budak-budak, seperti hasil dari tawanan perang yang telah di jadikan sebagai hak milik negara atau kerajaan, budak tersebut difungsikan sebagai pekerja tanah pertanian dan perkebunan.
            Dalam perbudakan pada masa ini, budak dianggap sebagai kekyaaan utama dari suatu bangsa atau kerajaan, anak-anak para budak ini tidak boleh dijual, melainkan ditampung dan dipelihara sebagai hak milik keluarga. Meskipun pada saatnya nanti anak budak menggantikan orangtuanya tetapi kebebasan diberikan kepada anak budak tersebut. Berbicara mengenai awal dari perdagangan budak di afrika barat, terdapat beberapa tafsiran, ada yang mengatakan awal perdagangan budak di afrika barat terjadi didaerah angola, kongo, dan guinea, yang selanjutnya meluas ke sudan barat. Kemudian ada juga yang mengatakan perdagangan budak di afrika barat berasal dari daerah-daerah pedalaman yang jauh. Yang terakhir ada juga pendapat yang mengatakan awal perbudakan di afrika berawal dari perdagangan budak di guinea tepatnya terletak di pantai afrika barat.
            Perkembangan perbudakan denagan skala luas atau jaringan internasional, mulai berkembang sejak ditemukannya benua amerika awal abad ke 16, yaitu orang – orang asing seperti spanyol dan portugis menjalin hubungan dagang dengan penduduk pribumi, mereka mendirikan benteng0-benteng dan pos-pos perdagangan. Terjadi hubungan perdagangan antara raja-raja negro di afrika barat dengan para pedagang portugis dan spanyol, selain itu juga berkembang dan meluasnya agam kristen ke wilayah tersebut.  Keadaan semakin lama semakin berkembang pesat maka sekitar abad ke 17 banyak berdiri tempat perdagangan disepanjang pantai afrika barat. Selain bangsa spanyol dan portugis, bangsa inggris, belanda serta prancis mulai menjalin hubungan perdagangan dengan penduduk atau raja di afrika barat.  Kemudian ditahun 1595 bangsa belanda berhasil menguasai perdagangan budak didaerah pantai guinea. Pada akhirya banyak para budak yang diangkut oleh kapal-kapal belanda dan dikirim ke brazilia utara.
            Ditahun 1562, orang-orang inggris yang dipimpin oleh sir jhon howkins mulai tertarik melakukan hubungan dagang budak di afrika barat, pada awalnya mereka bermaksud mencari logam, namun akhirnya mereka lebih tertarik pada perdagangan budak.  Sekitar abad ke 18 inggris mendirikan koloni-koloninya diwilayah afrika barat terutama di sepanjang pantai guinies.
            Tahun 1672, inggris mendirikan organisasi dagang di afrika barat  yang bernama the royal african company. Para budak yang dibawa ke kapal-kapal inggris ditukar dengan hasil-hasil textil, anggur, senjata dan kebutuhan-kebutuhan lain yang sangat diperlukan oleh para raja atau penguasa-penguasa pribumi diwilayah afrika barat. Kemudian bangsa eropa terakhir yang melakukan perdagangan budak adalah perancis, yaitu di daerah senegal pada 1662. Budak yang diangkut kapal perancis dikirim di santo domingo di kepulauan haiti.
            Masalah pengangkutan budak ternyata banyak menimbulkan berbagai masalah dan kesulitan, ini dikarenakan sering terjadi perlawanan dari para budak, banyak menderita sakit yang kemungkinan disebabkan oleh lamanya perjalanan, perbedaan iklim, makanan yang tidak teratur, dan penderitaan fisik yang disebabkan oleh perlakuan kejam dari para pemiliknya.   

Perbudakan Di Amerika Serikat
            Impor budak ke amerika pada 31 agustus 1616 oleh jhon roulfe, bangsa belanda telah menjual sebanyak 20b orang negro ke virginia, pada saat itu masih koloni inggris, orang negro diwilayah tersebut dipekerjakan sebagai pelayan rumah tangga, wilayah amerika serikat bagian selatan peada periode kolonial inggris terbentang dari marieland sampai georgia yang mempunyai penghasilan pokok pertranian dan perkebunan yang merupakan penghasilan utama dari koloni inggreis. Berbagai hasil industri inggris ditukar dengan hasil daerah koloni untuk mengusahakan jenis tanaman tembakau, koloni mulai menggunakan tenaga budak, latar belakang perbudakan di amerika serikat bagian selatan, sesungguhnya sangat berkaitan dengan kondisi geografisnya seperti keadaan ekologi yang sangat subur. Yang menghasilkan tebu, nila, kapas, gandum dan juga tembakau sesuai dengan lingkungan alamnya. Ternyata dapat mendorong terjadinya perbudakan didaerah pertanian. Perkebunan diselatan sangat memerlukan tenaga budak. Hal-hal yang mendorong kolonis menggunakan tenaga kulit hitam adanya problem tenaga kerja diberbagai perkebunan, karena orang kulit putih gagal menggunakan gagal menggunakan pekerja dari orang indian yang sudah hidup bebas didaerah bebas dan perkebunan. Tenaga kulit putih diperkebunan tidak efektif karena tidak tahan dengan iklim panas dan harganya juga begitu mahal. Tenaga budak negro bila ditempatkan diperkebunan sangat efektif dan juga murah. 
            Perbudakan sebagai lembaga sosial, mula-mula tumbuh di daerah virginia, kemudia tersebar luas ke wilayah lain. Pada 1625 trjadi hubungan perdagagan antara virginia london company dengan pihak kerajaan, menyangkut masalah hasil pertanian dan perkebunan. Organisasi perdagangan suasta di virginia pada masa kolonial juga menyalurkan kebutuhan tenaga kerja budak berbagai daerah koloni. Selama abad ke 17 dan ke 18, sebagian besar orang-orang negroyang diimpor dari afrika barat dipekerjakan dalam perkebunan tembakau, nila, dan padi. Sumber penghasilan utama bagi wilayah amerika serikat bagian selatan adalah dari hasil pertanian perkebunan. Oleh karena itu, tenaga budak sebagai alat produksi harus dipertahankan.
            Perbudakan yang terjadi di wilayah amerika serikat bagian selatan, merupakan lembaga sosial dimana para budak terikat oleh sejumlah peraturan yang dipaksakan kepadanya dan harus ditaati padanya. Praktik-praktik perbudakan menunjukan adanya suatu eksploitasi sesama umat manusia. Budak dianggap sebagai barang milik yang dikuasai epenuhnya oleh para pemiliknya, sehingga mudah dapat untuk diperjual belikan. Perbudakan sebagai suatu lembga sosial diatur dan dilindungi oleh negara bagian diwilayah selatan.

Organisasi  perbudakan
            Sistem perbudakan yang terjadi di amerika serikat bagian selatan mempunyai perbedaan sestem perbudakan dengan sistemm perbudakan di amerika latin dan di hindia barat. Sistem perbudakan di amerika latin masih memperhatikan prinsip-prinsip kemanusiaan terhadap budaknya. Pemilik budak tidak mempunyai kecenderungan mengembangkan lembaga budak secara intensif.
            Warga kulit putih di selatan mengangap budak sebagai hak milik yang sah. Sebagian besar dipelihara oleh para pengusaha perkebunan, sementara pemerintah fedeal tidak berwenang menyesihkan sistem perbudakan  yang terjadi di berbadgai daerah dan kesemuanya ini merupakan kelanutan dari warisan daerah kolonial yang tidak di awasi oleh pemerintahan inggris. Beberapa tokoh negarawan di selatan memasukkan peraturan perbudakan yang di susun oleh kongres yang berisi ketentuan mengenai pelarian budak-budak negro di suatu negara bagian ke negara bagian lain harus dikembalikan kepada pemiliknya, peraturan tesebut terkenal dengan nama  fugitive slave law, yang mulai di susun pada 1 februari 1793.
                             Di dalam lembaga perbudakan semua epraturan yang mengetur hubungan antara tuan dan budak termuat dalam peraturan hukum yang dinamakan the black codes yang dilegalisir oleh negara bagian di selatan pada akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19 yang isisnya di antaranya melindungi hak milik budak ,mengawasi setiap kemungkunan timbulnya gerakan-gerakan negro yang dapat membahayakan kedudukan para pemiliknya. Para budak dilarang mengadakan perjanjian dengan siapapun. Seorang budak tidak boleh melakukan kekerasan terhadap orang kulit putih tapi sebaliknya pembunuhan yang dilakukan oleh warga kuit putih terhadap kulit hitam tidakah dianggap sebagai suatu perbuatan kriminal, hukuman yang diterima budak paling ringan adalah dipekerjakan kembali di tempat yang pekerjaannya berat tapi. Ada juga budak yang anggota tubuhnya di siksa seperti bekas-bekas penyiksaan terhadap budak yang meenggar peraatura tersebut. Hukuman yang terberat seperti hanya penberontakan budak di hukum mati.

Usaha penghapusan perbudakan
            Berdasarkan datwa jumlah yang didapat dari biro sensus penduduk negro oleh pemerintah federal (1790-1915), menunjukkan bahwa jumlah penduduk negro yang berade di wilayah utara relatif kecil. Sampai dengan 1830 orang-orang negro di amerika serikat tercatat 2.328.642 orang. Dari jumlah itu penduduk negro yang berada di utara rata-rata tercatat 10%. Tenaga-tenaga negro diutara pada umumnya digunakan sebagai pelayan rumah tangga. Sejak 1804,bwilayah Utara telah melarang adanya perbudakan. Kegiatan dari gerakan anti perbudakan sebenarnya sudah terjadi pada pertengahan abad ke-18, beberapa tokohnya antara lain Jhon Woolman dan Anthony Benezet masing-masing dari wilayah New Jersey dan Philadelpia. Setelah perang kemerdekaan, dengan dipelopori oleh kelompok Quacker,gerakan abolisi dan masyarakat antiperbudakan mulkai tersebar ker,gerakan abolisi dan masyarakat antiperbudakan mulkai tersebar di wilayah utara. Sebelum 1800, orang-orang abolisi kulit hitam seperti  : Prince Hall,Benjamin Banneker, Abrahamdi wilayah utara. Sebelum 1800, orang-orang abolisi kulit hitam seperti  : Prince Hall,Benjamin Banneker, Abraham  Jones, dan Richard Allen mulai menyuarakan antiperbudakan dan mendirikan the African Society of Philadelpia. Pada para pemimpin kulit putih maupun orang-orang negro di utara’ mendirikan suatu gerakan abolisi yang terorganisasi dengan baik’ terkenal dengan nama The Underground Railroad. Gerakan ilegal ini didirikan pada 1804, terdapat di berbagai negara bagian seperti Indiana, Ilionis, Ohio, dan Pennsylvania.
            Gerakan tersebut agar lebih aman melakukan aktifitasnya membantuu melarikan para budak selalu pada malam hari. Ada di antaranya para budak mullato menyamar sebagai orang-orang kulit putih dan kadang-kadang sebagai pemilik-pemilik budak. Reaksi orang-orang selatan dalam menghdapi gerakan The Underground Railroad diantaranya dikeluarkan perintah-perintah penangkapan terhadap tokoh-tokoh dan anggota-anggota gerakan tersebut yang terbukti telah menyelundupkan budak-budak ke wilayah Selatan.
            Pimpinan-pimpinan selatan dalam usahanya menentang The Underground Railroad, sering melakukan pengejaaran terhadap budak-budak yang melarikan diri ke utara. Dalam dokumen tertanggal 24 april, 1815, yang terdapat dalam sejarah bangsa amerika di edit oleh H.S Commgel. Isi dokumen buku tersebut adalah sebagai reaksi dari para pemilik budak di wilayah selatan, yang merasa dirugikan agar berhati-hati terhadap tindakan warga Boston,Massachusetts, yang telah menculik dan menangkap para budak untuk dibebaskan. Harap warga selatan tetap waspada dan berhati-hati terhadap para penculik yang terdapat di daerah Boston yang berdalih pada Fugitive Slave Law.

Pemberontakan Budak
            Terjadi suatu pemberontakan budak pada hakikatnya tak lepas dari keadaan lingkungan sosial yang sangat menekan kehidupannya yang disebabkan oleh berbagai tindakan dari pemiliknya.disorganisasi keluarga dalam masyarakat budak merupakan sumber utama timbulnya pemberontakan. Hal itu berkaitan dengan faktor-faktor tidak puas dan putus asa dari kelompok budak,terjadinya berbagai insiden dan mengenai simbol. Perasaan tidak puas dari para budak itu karena ascribed stastus, Yaitu status yang bibebankan oleh pemaksaan dan pembenahan dalam hirarki sosial yang berlaku dalam lingkungan kulit putih di selatan yang menggangap bahwa budak berstatus sebagai hak milik. Penerapan peraturan yang tercantum dalam  The black codes sangat menekan perasaan para budak. Situasi psikologis yang menegangkan diciptakan oleh para tuan dengan memperlakukan budak-budaknya secara kejam dan menakutkan. Budak-budak yang sering mengalamitekanan jiwa akibat perlakuan kejam dari para tuannya.
Pemberontakan budak di Amerika Serikat sebenarnya telah terjadi sejak wilayah tersebut dikuasai oleh kolonial Inggris. Pemberontakan budak mula pertama terjadi di South Carolina pada November, 1526. Adapun pemberontakan budak yang dianggap penting pada era kolonial Inggris di Amerika Serikat terjadi di wilayah Virginia pada September,1663.
Selama era kolonial Inggris sampai berakhirnya perang saudara di Amerika Serikat (1607-1865),telah terjadi 115 kali pemberontakan budak yang terjadi di berbagai negara bagian di Amerika Serikat. Sebagian besar terjadi di Selatan. Sejak wilayah Utara melarang adanya perbudakan pada tahun 1804, maka pada tahun itu pula tidak pernah terjadi pemberontakan-pemberontakan budak.
Selama periode 1800-1864, telah terjadi 54 kali pemberontakan budak yang kesemuanya terdapat di wilayah Selatan. Memperhatikan tempat terjadinya pemberontakan budak,daerah Virginia merupakan tempat yang terbanyak terjadinya pemberontakan. Sebanyak 20 kali selama periode 1800-1864, yang lain tersebar di berbagai wilayah. Nantinya, dalam perang saudara di Amerika Serikat (1861-1865), Virginia merupakan ibukota dari negara konfederasi.
Dalam membahas sekilas sekitar pemberontakan budak pada periode 1800-1864, penulis hanya memfokuskan pada tiga peristiwa yang dianggap sangat penting selama terjadinya pemberontakan. Tiga peristiwa penting dalam pemberontakan budak itu : (1) terjadi pada 1800, di Virginia, dipimpin oleh Gabriel Prosser; (2) pada 1822,terjadi pemberontakan budak di South Carolina di bawah pimpinan Denmark Vesey; (3) pada 1831, pemberontakan budak terjadi di Virginia di bawah Nat Turner dan juga terdapat di berbagai wilayah. Terdapat suatu keunikan dalam mempelajari tokoh pemimpin budak dalam menggerakkan suatu pemberontakan. Keunikan itu nampak bahwa pemimpin budak pada umumnya berasal dari budak rumah tangga yang kemudian ia memperoleh kebebasan dan kemerdekaannya tak lagi berstatus budak. Pada budak rumah tangga yang melakukan suatu pemberontakan dapat digagalkan, antara lain, rahasia pemberontakan diketahui oleh para budak rumah tangga yang kemudian segera memberitahukan rencana pemberontakan kepada tuannya. Jadi, dalam masalah sosok budak rumah tangga, ia berpeluang menjadi pemimpin pemberontakan, namun juga dapat berkhianat menggagalkan rencana pemberontakan. Berikut ini secara garis besar akan dikemukakan peristiwa ketiga pemberontakan budak yang terjadi pada 1800,1822,dan 1831.
Gabriel Posser adalah budak rumah tangga yang bekerja sebagai sains dari seorang pengusaha perkebunan di daerah Virgimia, bernama Thomas Prosser. Ia seorang pengikut kristiani yang amat tekun mempelajari ajaran Injil. Ia mulai tergugah hatinya ingin membantu perjuangan bangsanya membebaskan dari belengu perbudakan. Setelah beberapa tahun mengabdi pada tuannya, kemudian ia memperoleh kemerdekaannya sebagai seorang negro bebas. Perjuangan Gabriel Prosser  di dalam menentang perbudakan didasarkan pada konsep-konsep agama dan rasional. Dalam menentang perbudakan is mengartikulasi konsep injil dengan interpretasi persaudaraan universal. Terdapat dua orang kulit putih yang ikut mebantu perjuanagan budak, mereka berusaha mencari bantuan persenjataan dan bahan peledak untuk melakukan pemberontakan. Gabriel Prosser merencanakan suatu pemberontakan di daerah pedesaan Henrico, di Kota Richond, Virginia, pada1 September,1800. Ia membagi seluruh pengikutnya yang berjumlah 1100 budak dalam tiga kelompok besar. Sebagai langkah pertama, kota harus dikuasai, mereka harus berhasil merebut gudang senjata yang berada di kota Richmond.apabila kelompok yang di tugasi berhasil merebut gudang senjata, terlebih dahulu menyergap para penjaganya.
Sebelum Gabriel Prosser mulai merencanakan penyeranagan  kota Richmond, rahasia pemberontakan telah bocor karena penghianatan yang dilakukan oleh dua orang budak rumah tangga.kedua penghianat tersebut melaporkan rencana pemberontakan yang akan dilakukan oleh Gabriel Prosser kepada pemerintah negara bagian Virginia. Maka, dengan segera pemerintah negara bagian Virginia segera menggerakkan tentaranya sebanyak 600 orang untuk mencegah pemberontakan serta melindungi kota Richmond. Pemberontakan Gabriel Prosser dengan cepat dapat dihancurkan, sebanyak 30 orang pengikutnya telah menjadi korban. Komplotan Gabriel Prosser telah gagal akibat penghianatan yang dilakukan oleh dua orang budak rumah tangga. Ia sendiri di tawan pada 25 September 1800, kemudian di kirim ke kota Richmond. Gubernur Virginia berusaha untuk mengkorek informasi seputar rencana pemberontakan yang dilakukan oleh Gabriel Prosser, namun gubernur tersebut gagal memperoleh informasi yang dianggap penting. Ia tidak mau mengaku dengan siapa saja pemberontakan itu dilakukan. Akhirnya, Gabriel Prosser dijatuhi hukuman mati di tiang gantungan pada 7 Oktober, 1800. Setelah pemberontakan Gabriel Prosser dapat digagalkan oleh gubernur  James Monroe, segera melaporkan pada pemerintah Thomas Jefferson, bahwa pemberontakan tersebut berhasil dihancurkan.
            Pemberontakan yang lain dilakukan oleh Denmark Vesey di negara bagian Shout Carolina pada 1822.seperti halnya Gabriel Prosser, Vesey berasal dari budak rumah tangga. Perjuanagan Denmark Vesey dalam menentang perbudakan terpengaruh oleh konsep pemikiran Gabriel Prosser. Ia juga memberi konsep agama dan idedari revolusi perancis. Denmark Vesey menanamkan agama dan ide-ide dari revolusi Perancis. Vesey menanamkan pengaruhnya terhadap para anggotanya, bahwa Tuhan telah menciptakan semua umat manusia memiliki hak-hak yang sama. Rasa ketidakpuasan bersumber dari pengetrapan the black codes. Disamping itu, ia mendapat dukungan dari para pemimpin Greja Metodhist yang anggotany aterdiri dari orang-orang negro. Berdasarkan pengalaman yang ada, gagalnya pemberontakan budak karena adanya penghianatan dari budak rumah tangga, maka, vessey merencanakan pemberontakan yang akan dilakukannya harus hati-hati jangan sampai bocor. Ia menetapkan bahwa pemberontakan akan dimulai pada minggu kedu, Juli, 1822. Ia berusaha  mencari bala bantuan orang-orang negro di derah Santo Domingo, sama seperti yang pernah dilakukan oleh Gabriel Prosser. Bala bantuan yang diharpkan Vessey, kenyataanyya menjadi terpencar sehingga sulit dikoordinasi, mengingat jarak tempuh dari daerah Charleston dengan Santo Domingo, terlalu jauh, 80 mil jaraknya. Rencana Vessey ternyata juga telah dihianati oleh seorang budak yang telah mendapat kepercayaan darinya. Budak itu bernama Devany, seorang pelayan rumah tangga yang bekerja sebagai kusir gerobakpada bekas kolonel Prioleau. Devany mendapat uang sebanyak $ 1.000 dan juga memperoleh kebebasan dari tuannya. Akibat kegagalan pemberontakan Vessey, 139  orang ditahan, 47 orang dimasukkan dalam penjara termasuk 4 orang kulit putih, yang dituduh ikut membantu dan melindungi para budak. Sebanyak 35 budak pengikut Vessey menjalani hukuman mati.pembeontakan Vessey ditaksir mempunyai pengikut lebih dari 9.000 orang. Denmark Vesey akhirnya harus menjalani hukuman mati di tiang gantungan. Ia tetap menolak untuk mencantumkan nama dari orang-orang yang ikut di dalam komplotannya.
            Mengenai pemberontakan yang dlakukan oleh Nat Turner pada 1831,di Virginia, dapat di kisahkan sebagai berikut : Nat Turner adalah seorang pendeta sangat tekun mempelajari isi injil,sering memberi khotbah dan membabtis para budak. Ia adalah seorang pendeta yang sangat fanatik, menggunakan konsep supra irasional dalam usahanya membebaskan para budak. Kondisi masyarakat yang tidak menentu dengan harapan dan kecemasan,maka, mereka akan mengharapkan munculnya seorang pemimpin yang bermukjizat atau istilahnya sebagai the miracle man, rakyat menaruh kepercayaannya agar perasaan-perasaan tidak puas, frustasi,dan putus asa dapat segera berakhir, kemudian mengharapkan kemakmuran atau kesejahteraan sosial. Para pengikutnya yakin, bahwa melalui kepercayaan Kristus mereka akan mendapatkan kebebassan dan kemerdekaan bagi umatnya. Kefanatikan Nat Turner dipertebal oleh kegemaran mengolah hal-hal yang bersifat mistik sehingga akan dapat diketahui ideologi apakah yang akan digunakan sebagai konsep perjuangannya dalam membebaskan perbudakan. Dapat dikatakan bahwa ia berideologi yang messianistis. Artinya, di dalam situasi sosial yang kacau manusia sudah tidak berdaya lagi mengatasi dengan hal-hal yang rasional seperti yang dikerjakan oleh Nat Turner. Oleh karena itu, pemberontakan yang dilakukannya tidak direncanakan cermat dan teliti. Tentu saja, seorang pemimpin pemberontakan yang fanatik dengan sendirinya akan menlaksanakan perannya tak dipertimbangkan dengan masak-masak dan tidak waspada. Nat Turner masih terkesan mengenai rencana penyerangan yang telah mengalami kegagalan akibat terjadinya suatu penghianatan. Maka, Nat Turner tidak akan mudah mempercayai seseorang untuk mengatakan rencana pemberontakan. Ia akan bertindak sendiri memimpin penyerangan. Semula ia menetapkan tanggal 4 Juli 1831, sebagai permulaan untuk melakukan pemberontakan di pedesaan Southamton; tetapi ia menderita sakit sehingga rencana pemberontakan ditangguhkan. Nat Turner memulai pemberontakannya baru pada 21 Agustus 1831. Perlu diketahui, bahwa di dalam pemberontakan tersebut tidak terdapat penghianatan-penghianatan yang dilakukan oleh budak rumah tangga. Sebagai langkah pertama, ia beserta para pengikutnya merusak dan membakar tanah-tanah perkebunan. Ia mengharap agar selekasnya mendapat bantuan dari para budak  rumah tangga.  Nat Turner beserta para pengkutnya telah melakukan pemberontakan kejam terhadap tuannya, Joseph Travis beserta keluarganya. Angin peberontakan lekas meniup ke daerah Southampton.
Nat Turner mendapat sebutan sebagai “Bandit Besar” di kalangan masyarakat kulit putih di Virginia, sebab mereka melakukan pembunuhan kejam terhadap Joseph Travis beserta keluarganya dan juga sejumlah orang-orang kulit putih lain di daerah Southampton. Orang-orang kulit putih yang telah dibunuh dalam pemberontakan itu kesemuanya berjumlah 60 orang. Pada masa berkobarnya pemberontakan itu, seluruh pendeta negro di Virginia diperiksa oleh pemerintah, sebab pemimpin pemberontakan adalah berasal dari seorang pendeta. Sebagai tindak balasan dari waarga kulit putih para budak yang diduga terlibat dalam pemberontakan dibinasakan, sedang 13 orang budak yang lain dijatuhi hukuman gantung. Selama enam minggu, Nat Turner bersembunyi didaerah pegunungan di Southampton., tetapi akhirnya ia beserta para pengikutnya berhasil ditangkap 30 Oktober 1831. Ia menjalani hukuman mati pada 11 Nopember 1831. Pemberontakan yang dipimpin oleh Nat Turner berakhir pada 13 Oktober, 1831, dan berumur tidak lebih dari dua bulan.

Sumber Referensi :
Sundoro.  2012. sejarah amerika serikat . Jember: Jember University Pres

Sabtu, 22 Februari 2014

Perbedaan Budaya Politik Antara Kiai Jawa Dan Madura

Oleh: Moh Mahfud Musthofa
 
Kajian analitis mengenai kiai memang cukup banyak dan beragam. Salah satunya adalah studi yang dilakukan oleh Dhofier. Menurut Dhofier gelar kiai adalah gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang yang menjadi pimpinan pondok pesantren dan memiliki keahlian ilmu agama Islam. Gelar kiai dibentuk dan ditentukan oleh masyarakat, bukan gelar yang diciptakan sendiri oleh kiai tersebut. Gelar seperti ini merupakan gelar sosial yang menentukan prestis tidaknya seseorang dalam masyarakat. Gelar kiai juga diberikan kepada seseorang yang dianggap tokoh oleh masyarakat di luar urusan agama, atau diberikan kepada seseorang di luar kapasitasnya sebagai ahli ilmu agama. Dalam tradisi Jawa gelar yang diberikan dikenal dengan sebutan Kiai, Yai atau Ki. Masih menurut Dhofier, gelar kiai juga diberikan kepada seseorang yang ahli di bidang ilmu agama Islam, utamanya kitab kuning meskipun yang bersangkutan tidak memiliki pesantren.
Variasi kekiaian berbeda antara Jawa dan Madura. Dalam penelitian Turmudi di Jombang, semua ulama dari tingkat tertinggi hingga yang terendah disebut kiai. Dengan kata lain, istilah kiai di Jombang tidak mesti pada mereka yang menjalankan pesantren, tetapi juga dapat diterapkan kepada guru ngaji atau imam Masjid yang memiliki pengetahuan keislaman yang lebih dibandingkan dengan warga lain. Sementara di Madura tidak terikat oleh struktur formal apapun, tetapi lebih terletak pada pengakuan sosial sehingga agak sulit mengenali kekiaian seseorang. Hanya mereka yang menjalankan pesantren yang bisa dikenali dengan mudah. Mereka dianggap sebagai kiai yang lebih tinggi derajatnya. Di Madura, seorang guru ngaji di Musholla disebut kiai, demikian juga ada kiai yang berprofesi sebagai paranormal.
            Peran kiai di Madura sebagai pemimpin agama sangat dekat dengan hal-hal yang bersifat politik. Hal ini tidak dapat dielakkan karena kiai memiliki massa yang besar dan dengan sangat mudah menggerakkan massa (ummat) tersebut untuk kepentingan politik. Sementara sebagian massa tersebut adalah santri atau keluarga santri, atau mereka yang memiliki hubungan secara emosional keagamaan dengan kiai. Dari kekuatan tersebut kiai memiliki peran yang kuat dan berbeda dibandingkan masyarakat pada umumnya. Artikel ini mencoba membedah peran kiai di Madura dan peran-peran mereka dalam pentas politik.

Ekologi Madura
Secara antropologis, Jawa khususnya Jawa Timur dibagi ke dalam tiga budaya besar, yaitu kawasan yang disebut mataraman, yaitu kawasan yang secara budaya lebih dekat dengan budaya Jawa Mataram, yaitu budaya keraton Surakarta dan Yogyakarta. Di luar kawasan tersebut dikenal sebagai kawasan pesisir dan ujung timur Jawa, yakni kawasan Madura dan Jawa-Madura.
Masyarakat Jawa-Madura memiliki karakteristik dan budaya yang sama dengan Madura. Para ilmuwan ada menempatkan dan memperlakukan sama antara orang Madura dan Jawa-Madura, karena hubungan genealogis yang tidak bisa dipisahkan, tetapi sebagaimana dilakukan oleh Ayu Sutarto, antara Madura dan Jawa-Madura memiliki perbedaan yang cukup jelas, sehingga Jawa-Madura membentuk subkultur baru yang disebut dengan ”Pendalungan”.
Istilah tapal kuda merupakan istilah yang dianalogikan kepada masyarakat Madura, yang tinggal di Pulau Madura maupun di Jawa Timur bagian timur. Selain tinggal di pulau Madura, masyarakat Madura juga mendiami kawasan kawasan pesisir, mulai Surabaya, Bangil hingga kawasan Jawa Timur bagian timur, yakni Jember dan Banyuwangi. Secara geografis, kawasan tersebut menyerupai telapak kuda, sehingga para antropolog sering memakai istilah ”tapal kuda” untuk merujuk kawasan tersebut.
Penduduk yang berbahasa dan berbudaya Madura tidak saja ditemui di rumah asalnya, pulau Madura, melainkan beberapa kawasan lain di Jawa Timur. Hampir di kawasan pesisir utara Jawa Timur didiami oleh masyarakat Madura, yang membentang dari pesisir Gresik, Surabaya, Bangil, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi dan Jember. Bahkan kawasan pesisir pantai selatan, seperti Lumajang dan Malang juga didiami masyarakat Madura, meskipun jumlahnya tidak sebanyak di kawasan pantai utara. Di dua Kabupaten, Bondowoso dan Situbondo yang berada di kawasan timur Jawa Timur, hampir 100 % penduduk setempat berbahasa Madura. Indikasinya adalah, tidak ditemuinya penduduk setempat yang berbahasa selain Madura, kecuali penduduk pendatang baru, yang umumnya bekerja sebagai pegawai pemerintah dan guru, dan tinggal menetap di kawasan tersebut.
Masyarakat Madura di Jawa (istilah lain disebut Jawa-Madura) adalah berasal dari pulau Madura. Secara genealogis mereka adalah orang Madura. Mereka melakukan migrasi besar-besaran pada akhir abad 18. Pada tahun 1806, sudah ditemui desa-desa orang Madura di pojok timur karesidenan Jawa; 25 desa di Pasuruan, 3 desa di Probolinggo, 22 desa di Puger dan 1 desa di Panarukan. Pada tahun 1846, populasi orang Madura di pojok timur pulau Jawa diperkirakan berjumlah 498.273, dan di Surabaya, Gresik dan Sidayu sekitar 240.000. Adapun jumlah total etnis Madura di Jawa-Madura waktu itu sekitar 1.055.915.8
Migrasi temporer dan permanen mempengaruhi populasi di Madura sendiri. Sejak tahun 1892, diperkirakan perpindahan tiap-tiap tahun penduduk Madura ke Jawa berjumlah 40.000, dengan perincian 10.000 dari Sumenep, 3.000 Pamekasan, 18.000 dari Sampang dan 9.000 dari Bangkalan. Selama musim kemarau, ketika air sangat jarang, pekerja-pekerja migran meninggalkan pulau Madura dan kembali lagi setelah masa panen, atau pada akhir ramadhan untuk berpesta bersama keluarga. Mereka biasanya tinggal di Jawa, tiga sampai enam bulan atau sampai satu tahun. Ongkos berlayar hanya 25 sen, atau sama dengan upah sehari kerja. Rendahnya ongkos berlayar mendorong mereka untuk pergi ke Jawa dalam waktu terbatas, atau menetap dalam jangka waktu lama. Dalan studi yang dilakukan oleh Kuntowijoyo, hingga tahun 1930 separuh lebih dari seluruh etnis Madura tinggal di Jawa, utamanya di pojok timur Jawa Timur. Sensus penduduk waktu itu memperlihatkan bahwa penduduk Madura yang tinggal di Jawa (termasuk pulau-pulau kecil di timur Madura) berjumlah 4.287.276. Bandingkan dengan orang Madura yang tinggal di Madura yang hanya mencapai 1.940.567, atau sekitar 45 % dari total etnis Madura. Pada tahun tersebut, etnis Madura di pojok timur pulau Jawa merupakan mayoritas. Di Karesidenan Panarukan, Bondowoso dan Kraksan hampir 100 % penduduknya orang Madura. Di Probolinggo, orang Madura mencapai 72 %, di Jember 61 %, Pasuruan 45 %, Lumajang 45, 6 %, di Malang 12 % dan Bangil 12, 7 %.10 Dari sisi inilah, prilaku, karakteristik antara orang Madura yang berada di pulau Madura dan pulau Jawa-Madura memiliki persamaan, baik dari struktur sosial, budaya dan ciri keagamaan.
Dalam sensus penduduk yang dilakukan pada tahun 2000, penduduk Madura yang berada di Madura Pulau sebesar 3.230.300 jiwa. Sementara terdapat 3.281.058 etnis Madura yang berada di pulau Jawa khususnya Jawa Timur, sementara dalam lingkup nasional jumlah etnis Madura mencapai 6.771.727 jiwa. Artinya jumlah etnis Madura yang berada di Jawa lebih besar dibandingkan dengan yang berada di Madura Pulau.
Dalam penelitian Kuntowijoyo, masyarakat Madura dikelompokkan menjadi lima;yaitu para usahawan, pemimpin agama, petani dan produsen garam. Usahawan yang cukup menonjol adalah pedagang besi tua dan kerajinan khas Madura. Sebagian lain sebagai petani dan nelayan. Jumlah petani di Madura sangat kecil, karena hampir sebagian besar tanah Madura adalah tandus dan tadah hujan. Tanah tersebut kurang cocok untuk memproduksi padi dan tanaman polowijo. Sebagian besar tanah Madura ditanami tembakau dan jagung, yang dari sisi ekonomis naik turun atau harganya ditentukan oleh pasar. Sementara yang bekerja sebagai nelayan cukup besar. Untuk kawasan timur, banyak ditemui petani garam yang jumlahnya cukup besar. Bahkan Kalianget, salah satu kawasan di Kabupaten Sumenep merupakan produsen garam terbesar di Indonesia.
Kondisi tanah tegalan yang tandus yang berimbas pada prilaku keseharian warga Madura. Secara umum masyarakat Madura dikelompokkan sebagai pekerja keras, terbuka, bertipikal kasar tetapi peduli pada lingkungan sekitar. Struktur ekologis sangat menentukan karakter masyarakat Madura. Tetapi ada perbedaan antara Madura Sumenep dan bagian barat, yaitu Pamekasan, Sampang dan Bangkalan. Tipikal keraton yang priyayi banyak mempengaruhi prilaku keseharian mereka. Masyarakat Sumenep lebih dikenal lebih halus, santun dan jaim (jaga imej). Orang Madura-Jawa yang mendiami kawasan pojok timur Jawa Timur banyak dipengaruhi tipikal Sumenep dibandingkan bagian barat lain. Sementara orang Jawa-Madura yang tinggal di sekitar Surabaya, Bangil, Pasuruan dan Probolinggo memiliki karakteristik yang sama dengan Madura Sampang dan Bangkalan.

Agama dan Politik Memposisikan Kiai Sebagai Sentral
Pemimpin kegamaan di Madura terdiri dari tiga kelompok, yaitu; santri, kyai dan haji. Murid yang menuntut ilmu disebut santri, guru agama yang mengajari santri disebut kyai, dan mereka yang kembali dari menunaikan ibadah haji ke Mekkah dan Madinah disebut haji. Ketiga kelompok tersebut berperan sebagai pemimpin keagamaan di Masjid, Musholla, acara ritual keagamaan dan acara seremonial lain, dimana mereka berperan sebagai pemimpinnya. Diantara ketiganya, kyai merupakan tokoh yang paling berpengaruh, dan oleh Kuntowijoyo, kyai Madura disebut dengan elit desa. Pengetahuan yang mendalam tentang Islam menjadikan mereka paling terdidik di desa. Beberapa kiai selain tetap menyampaikan keahliannya soal-soal agama, juga dapat meramalkan nasib, menyembuhkan orang sakit dan mengajar olah kanuragan. Kyai Madura dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis;guru ngaji, yang mengajarkan al-Qur’an, guru ngaji kitab yang mengajarkan berbagai jenis ilmu agama, dan guru tarekat yang disebut juga pemimpin tarekat.
Peranan kiai di Madura sangat penting, dan orientasi masyarakat Madura adalah kiai, tidak pada kepemimpinan birokrasi. Pandangan ini yang kemudian dimaknai “kegagalan” integrasi politik dan ekonomi Madura dalam sistem nasional, sebagaimana ditunjukkan oleh tipisnya pengaruh partai pemerintah dalam beberapa kali Pemilu. Dalam penelitian Towen-Bouswsma (1988) dan Joordan (1985) disimpulkan, bahwa terdapat indikasi yang sangat kuat adanya “kegagalan” pemerintah dalam mengintegrasikan sistem politik dan ekonomi yang bersifat nasional dalam kehidupan masyarakat Madura. Pandangan kedua peneliti tersebut dibantah oleh Kuntowijoyo yang menyatakan, bahwa kuatnya pengaruh kiai di tengah masyarakat Madura karena faktor ekologi dan sistem sosial. Ekologi tegalan hingga sekarang masih dominan. Apa yang dikenal dengan “Revolusi Hijau” dan “Revolusi Biru” di bidang pertanian tidak mampu merubah sistem sosial, politik dan kultural Madura. Ekosistem tegal sudah menjadi satu dengan masyarakat Madura, sehingga sulit untuk memisahkan pengaruhnya pada organisasi sosial dan sistem simbol masyarakatnya.
Pola ekosistem tegalan di atas dimaksudkan untuk menujukkan pola pemukiman dan sekaligus organisasi desa. Di Madura, sama halnya di Jawa, pola pemukiman persawahan mengelompok pada satu induk (nuclear village) dengan persawahan di sekitar desa. Akan tetapi, karena jumlah sawah tidak teralu berarti, maka pola pemukiman semacam itu jarang terjadi. Kebanyakan desa mempunyai pola desa tersebar (scattered village), dimana perumahan penduduk terpencar dalam kelompok-kelompok kecil. Untuk mempersatukan desa-desa yang terpencar itu, perlu ada jenis organisasi sosial lain yang mampu membangunkan solidaritas. Di sinilah letak pentingnya agama dan kiai di pedesaan Madura.
Karena desa tidak dipersatukan dalam suasana ekonomi, maka sistem simbol menjadi lebih kuat. Demikian juga, karena terpencar, perlu ada pengikat yang menjembatani pemecahan desa. Dalam hal ini agama menjadi ”organizing principle” bagi orang Madura. Pertama, agama memberikan collective sentiment melalui upacara-upacara ibadah dan ritual serta simbol yang satu. Misalnya, di Madura orang juga terpaksa membangun Masjid desa untuk melaksanakan ibadah jum’at secara bersama, karena dalam ketentuan syariat, tidaklah sah shalat jum’at yang tidak dihadiri 40 orang jamaah. Keharusan agamalah yang menjadikan masyarakat Madura menjadi masyarakat dengan membentuk organisasi sosial, yang didasarkan pada agama dan pada otoritas kiai. Masyarakat sipil yang dibangun di atas masyarakat desa hanya menjadi organisasi supradesa yang berada di permukaan, tetapi tidak mempunyai raison d’etre-nya sendiri.
Sebagaimana masyarakat patrimonial yang memegang teguh hierarki, posisi kiai sebagai pemimpim keagamaan dalam masyarakat Madura menjadi sangat kuat. Kekuasaan sosial terpusat pada tokoh-tokoh yang secara tradisional keberadaannya sangat dibutuhkan untuk mempersatukan mereka, bukan karena dipaksakan maupun keinginan para tokohnya. Dalam konteks inilah yang awalnya peran kiai hanya menyempit dalam area keagamaan kemudian melebar ke kawasan sosial dan bahkan politik.
Selain itu, pandangan hidup orang Madura antara lain tercermin dalam ungkapan bhuppa’ bhabbu’ ghuru rato. Pandangan ini menyangkut filosofi kepatuhan orang Madura pada bapak, ibu, guru dan raja (pemimpin formal), yang mereka sebut sebagai figur-figur utama. Dalam kehidupan sosial budaya orang Madura terdapat standard referensi kepatuhan terhadap figur-figur utama secara khirarkikal. Sebagai aturan normatif yang mengikat kepada semua orang Madura, maka palanggaran atau paling tidak—melalaikan aturan itu—akan mendapat sangsi sosial secara kultural.
Kepatuhan kepada guru merupakan aturan yang sangat normatif yang menjadi dasar bagi setiap makhluk di dunia. Bagaimana dengan kepatuhan kepada guru di Madura? Pada tataran ini Wiyata lebih menggaris bawahi bahwa tidak semua masyarakat dapat mematuhi guru sekuat orang Madura. Bagi orang Madura, guru (kiai) merupaka jaminan masalah moralitas dan masalah-masalah ukhrawi, maka kepatuhan orang Madura kepada guru didasarkan pada alasan tersebut. Sementara rato dalam sejarah Madura banyak dipegang oleh para kiai. Dari sinilah filosofi tersebut sangat kuat dan menjadi penanda identitas kultural orang Madura. Dari sini dapat dilihat bahwa ketaatan orang Madura pada kiai karena memang filosofi hidup mereka yang sangat kuat terbentuk sejak dini.
            Selain itu, orang Madura diakui memiliki perangai, sikap dan prilaku yang sangat tegas kemudian terimplementasikan dalam perangai, sikap, prilaku spontan dan ekspresif kadangkala muncul dalam takaran yang agak berlebihan sehingga makna ketegasan yang terkandung di dalamnya kemudian bergeser menjadi ”kekerasan”. Namun, pergeseran ini tidak mungkin terjadi tanpa ada kondisi-kondisi yang membentuknya. Kondisi sosial-budaya yang paling kuat adalah ketika orang Madura merasa dilecehkan harga dirinya sehingga membuatnya tada’ajinah (pengingkaran terhadap eksistensi diri sehingga tidak berguna dan bermanfaat baik secara sosial maupun budaya). Misalnya, kasus-kasus carok yang terjadi akibat pelecehan harga diri tidak dapat dilepaskan dengan kondisi seperti ini. Menurut Wiyata, banyak orang mengartikan bahwa setiap bentuk kekerasan, baik berakhir dengan kematian atau tidak, terutama yang dilakukan orang Madura, itu carok. Padahal kenyataannya, tidaklah demikian. Carok selalu dilakukan oleh sesama lelaki dalam lingkungan orang-orang desa. Setiap kali terjadi carok, orang membicarakan siapa menang dan siapa kalah. Dalam temuan penelitiannya, Wiyata menegaskan bahwa ternyata carok tidak merujuk pada semua bentuk kekerasan yang terjadi atau dilakukan masyarakat Madura, sebagaimana anggapan orang di luar Madura selama ini. Carok seakan-akan merupakan satu-satunya perbuatan yang harus dilakukan orang-orang pelosok desa yang tak mampu mencari dan memilih opsi lain dalam upaya menemukan solusi ketika mereka sedang mengalami konflik.
            Perangai sikap dan prilaku ”keras” yang kadangkala muncul tanpa disadari atau disengaja sebelumnya secara kultural memang diakui adanya. Hal ini oleh karena adanya relasi yang membentuknya. Namun secara kultural pula, perangai, sikap dan prilaku tersebut tetap disaring dalam koridor etika moral yang benar sehingga kemudian memunculkan pesona kewibawaan. Hal ini tercermin dalam sebuah ungkapan, ”mon pakeras, pakerres”. Makna ungkapan ini, bagaimanapun kerasnya perangai, sikap dan prilaku orang Madura hendaknya harus mampu diimplementasikan dan dimanifestasikan dalam keseharian dengan memencarkan pesona kewibawaan.

Sumber Referensi:
Dhofier, Zamakhsari. 1982. Tradisi Pesantren:Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai. Jakarta: LP3ES  
Herusatoto, B. 1991. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: PT. Hanindita

Sabtu, 07 Desember 2013

Perkembangan pemikiran zaman yunani dan Romawi

Perkembangan pemikiran zaman yunani dan Romawi
by. Moh Mahfud Musthofa



            Sebelumnya dalam alam pemikiran bangsa yunani kuno masih dipenuhi dengan pemikiran serta kepercayaan pada mitos-mitos atau dongeng-dongeng yang tidak bisa dibuktikan kejelasannya. Namun dalam perkembangan selanjutnya terjadi loncatan pemikiran yang berusaha untuk menundukkan mitos –mitos atau kepercayaan itu, hal ini dibuktikan dengan berkembangnya filsafat yunani yang ditandai dengan masa rasionalitas, dalam artian menanamkan sendi-sendi atau landasan dasar rasionalitas. pada zaman yunani kuno ini muncul tokoh-tokoh filsafat yang mengaktualkan gagasan pemikirannya, yang ditandai oleh usaha mencari asal (asas) segala sesuatu "arche"  yaitu Tidakkah di balik keanekaragaman realitas di alam semesta itu hanya ada satu azas? Thales mengusulkan air, Anaximandros mengusulkan yang tak terbatas, Empedokles berpendapat api-udara-tanah-air.  Herakleitos mengajar bahwa segala sesuatu mengalir ("panta rei" = selalu berubah), sedang Parmenides mengatakan bahwa kenyataan justru sama sekali tak berubah. Namun tetap menjadi pertanyaan: bagaimana yang satu itu muncul dalam bentuk yang banyak, dan bagaimana yang banyak itu sebenarnya hanya satu?  Pythagoras (580-500 sM) mengatakan bahwa asas mula sesuatu dapat diterangkan atas dasar bilangan-bilangan. Democritus (460-370 sM) dikenal oleh konsepnya tentang atom sebagai basis untuk menerangkannya juga.  Zeno (lahir 490 sM) berhasil mengembangkan metode reductio ad absurdum untuk meraih kesimpulan yang benar.
Puncak gemilang dari penerapan gagasan tersebut dicapai pada pemikiran filsafati Sokrates (470-399 sM), Plato (428-348 sM) dan Aristoteles (384-322 sM). Sokrates menyumbangkan teknik kebidanan (maieutika tekhne) dalam berfilsafat.  Bertolak dari pengalaman konkrit, melalui dialog seseorang diajak Sokrates (sebagai sang bidan) untuk "melahirkan" pengetahuan akan kebenaran yang dikandung dalam batin orang itu.  Dengan demikian Sokrates meletakkan dasar bagi pendekatan deduktif. Pemikiran Sokrates dibukukan oleh Plato, muridnya. Sokrates lebih berminat pada masalah manusia dan tempatnya dalam masyarakat, dan bukan pada kekuatan-kekuatan yang ada dibalik alam raya ini (para dewa-dewi mitologi Yunani), sehingga dengan penyebar paham baru tersebut sokrates dihukum oleh pengadilan Athena, karena dianggap menyebarkan ajaran baru ke masyarakat umum. Dalam sidang tersebut sebenarnya sokrates dibuang dari Athena tapi karena kesetiannya sokrates meminim racun cemara dihadapan hadirin peserta sidang, dan akhirnya meninggal.
Plato menyumbangkan ajaran tentang "idea".  Menurut Plato, hanya idea-lah realitas sejati. Semua fenomena alam hanya bayang-bayang dari bentuknya (idea) yang kekal. Dalam wawasan Plato, pada awal mula ada idea-kuda, namun disana di dunia idea. Dunia idea mengatasi realitas yang tampak, bersifat matematis, dan keberadaannya terlepas dari dunia inderawi. Dari idea-kuda itu muncul semua kuda yang kasat-mata. Karena itu keberadaan bunga, pohon, burung, (benda kasat mata) bisa berubah dan berakhir, tetapi idea bunga, pohon, burung, (benda kasat mata) kekal adanya. Itulah sebabnya yang Satu dapat menjadi yang Banyak. Plato juga mengungkapkan pendapatnya bahwa pengalaman hanya merupakan ingatan (bersifat intuitif, bawaan, dalam diri) seseorang terhadap apa yang sebenarnya telah diketahuinya dari dunia idea, konon sebelum manusia itu masuk dalam dunia inderawi ini. Menurut Plato, tanpa melalui pengalaman (pengamatan), apabila manusia sudah terlatih dalam hal intuisi, maka ia pasti sanggup menatap ke dunia idea dan karenanya lalu memiliki sejumlah gagasan tentang semua hal, termasuk tentang kebaikan, kebenaran, keadilan, dan sebagainya.
Aristoteles menganggap Plato (gurunya) telah menjungkir-balikkan segalanya.  Dia setuju dengan gurunya bahwa kuda tertentu "berubah" (menjadi besar dan tegap, misalnya), dan bahwa tidak ada kuda yang hidup selamanya. Dia juga setuju bahwa bentuk nyata dari kuda itu kekal abadi. Tetapi idea-kuda adalah konsep yang dibentuk manusia sesudah melihat (mengamati, mengalami) sejumlah kuda. Idea-kuda tidak memiliki eksistensinya sendiri: idea-kuda tercipta dari ciri-ciri yang ada pada (sekurang-kurangnya) sejumlah kuda. Bagi Aristoteles, idea ada dalam benda-benda. Pola pemikiran Aristoteles ini merupakan perubahan yang radikal. Menurut Plato, realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita, sedang menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan indera-mata kita. Aristoteles tidak menyangkal bahwa bahwa manusia memiliki akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang masuk dalam kesadarannya  oleh pendengaran dan penglihatannya. Namun justru akal itulah yang merupakan ciri khas yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Akal dan kesadaran manusia kosong sampai ia mengalami sesuatu. Karena itu, menurut Aristoteles, pada manusia tidak ada idea-bawaan. Dalam makluk hidup (tumbuhan, binatang, manusia), bentuk diberi nama "jiwa" ("psyche", Latin : anima).  Tetapi jiwa pada manusia memiliki sifat istimewa: berkat jiwanya, manusia dapat "mengamati" dunia secara inderawi, tetapi juga sanggup "mengerti" dunia dalam dirinya.  Jiwa manusia dilengkapi dengan "nous" (Latin: "ratio" atau "intellectus") yang membuat manusia mampu mengucapkan dan menerima "logoz".  Itu membuat manusia memiliki bahasa.
Filsafat Barat Abad Pertengahan (1476 – 1492) juga dapat dikatakan sebagai “abad gelap”. Ciri-ciri pemikiran filsafat barat abad pertengahan adalah cara berfilsafatnya dipimpin oleh gereja, berfilsafat di dalam lingkungan ajaran Aristoteles, dan berfilsafat dengan pertolongan Augustinus dan lain-lain.
Masa abad pertengahan ini terbagi menjadi dua masa yaitu masa Patristik dan masa Skolastik.
Pemikiran filsafati patriastik (para Bapa Gereja Katolik) mengandung unsur neo-platonisme.  Para Bapa Gereja berusaha keras untuk menyoroti pokok-pokok iman kristiani dari sudut pengertian dan akalbudi, memberinya infrastruktur rasional, dan dengan cara itu membuat pembelaan yang nalar atas aneka serangan. Pada dasarnya Allah menjadi pokok bahasan utama. Hakekat manusia Yesus Kristus dan manusia pada umumnya dijelaskan berdasarkan pembahasan tentang Allah. Ditegaskan, terutama oleh Agustinus (354-430 M) bahwa manusia tidak sanggup mencapai kebenaran tanpa terang ("lumens") dari Allah.  Meskipun demikian dalam diri manusia sudah tertanam benih kebenaran (yang adalah pantulan Allah sendiri). Benih itu memungkinkannya menguak kebenaran. Sebagai  ciptaan, manusia merupakan jejak Allah yang istimewa = "imago Dei" (citra Allah), dalam arti itu manusia sungguh memantulkan siapa Allah itu dengan cara lebih jelas dari pada segala ciptaan lainnya.
Dalam zaman ini pokok-pokok iman Kristiani dinyatakan dalam syahadat iman rasuli (teks "Aku Percaya" yang panjang). Didalamnya dituangkan rumusan ketat pokok-pokok iman, termasuk tentang trinitas tentu saja dalam katagori pemikiran filsafati pada waktu itu dan dengan bahan dari Alkitab.
Zaman reinesance ditandai sebagai kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Renaisance ialah peralihan ketika kebudayaan abad tengah mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia pada zaman renaisance adalah manusia yang merindukan pemikiran yang bebas. Seperti pada zaman Yunani kuno. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan Tuhan. Penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern sudah mulai dirintis pada zaman renaisance. Ilmu yang berkembang maju pada masa ini adalah bidang astronomi, tokh-tokohnya adalah Copernicus, Keppler, Galileo Galilei. Perkembangan ilmu pengetahuan yang dirintis sejak zaman Yunani hingga zaman Kontemporer menunjukkan bahwa terjadi perkembangan dalam tubuh ilmu pengetahuan itu sendiri disatu pihak. Namun dipihak lain, spesialisasi ilmu yang semakin menajam menampakkan disharmoni hubungan antara disiplin ilmu yang satu dengan disiplin ilmu yang lain. Keadaan sperti inilah yang perlu diatasi melalui strategi perkembangan ilmu.
Zaman Renaissance atau “ kelahiran kembali” (Sekitar tahun 1400-1600), merupakan jembatan antara abad peretengahan dan zaman modern. Pada masa ini, kebudayaan Yunani dan Romawi dikaji kembali yang memberikan inspirasi bagi perkembangan seni, filsafat dan ilmu. Sasran pemikiran diarahkan kembali kepada manusia (Antropos). Manusialah yang menjadi substansi utama dari realitas, bukan kosmos ataupun Tuhan yang berda di luar diri manusia.Berkembanglah filsafat humanisme yang memberi tekanan pada derajatkemanusiaan. Masalah kebebasan manusia dipersoalkan, yaitu apakah manusia pada hakekatnya merupakan makhluk yang mempunyai kebebasan (freedom), yang memiliki kemauan bebas (free will) ataukah ia makhluk yang tidak bebas, artinya ia tidak mempunyai kebebasan untuk memilih atau untuk menentukan apa yang ingin dilakukannya. Dalam hubungan ini timbul aliran Determinisme, Indeterminismedan Self-Determinisme.


Rabu, 15 Mei 2013

Pemerintah dan industri karet yang muncul di Indonesia dan Malaysia, tahun 1900 – 1940





Pemerintah dan industri karet yang muncul di Indonesia dan Malaysia, tahun 1900 – 1940
By colin barlow dan jhon drabble

Pembangunan pesat didaerah khatulistiwa telah dimulai dalam 25 tahun terakhir. Pembangunan yang pesat didasarkan pada produksi beberapa komoditi primer, diantaranya karet sebagai salah satu bahan mentah baru yang besar maknanya bagi perindustrian didunia barat. Pada tahun 1940 luas 46% dari luas permukaan tanaman karet di indonesia dimiliki oleh perusahaan perkebunan dan 54 % dimiliki oleh kaum tani kecil. Sedangkan di malaya perusahaan perkebunanmemiliki 60 % dan kaum tani kecil 40 %.

Pola Kesejarahan
            Di indonesia penanaman karet pada tanah perkebunan mengikuti contoh dari budidaya ekspor yang sudah mantap khususnya tebu dan tembakau, untuk selanjutnya diterapkan organisasi manejerial perusahaan  yang menarik modal dan pegawai dari eropa. Perusahaan perkebunan merupakan organisasi yang relatif besar dengan menejemen dan tenaga kerja yang terstruktur secara hierarkis yang menghasilkan jenis komoditi seragam melaluipabrik pengolahan pusat. Ekspor karet dan dan penjualannya di pasaran dunia diselenggaraakan melalui jaringan agen dan makelar karet.
            Industri karet khususnya para petani kecil mulai menunjukkan pertumbuhan ketika terjadi lonjakan harga luar biasa pada tahun 1909 – 1912. Hal ini juga dipengaruhi oleh naiknya pengetahuan petani yaitu dengan memperoleh benih atau bibit dari perkebunan. Kemudian para petani kecil juga menanam dengan sistem tumpang sari yaitu dengan bebarengan tanaman palawija. Jadi, meskipun meskipun mereka telah berkebun karet, kaum tani kecil itu tetap menanam tanaman pangan.
            Sebelum mulai dibudidayakan karet, perekonomian di malaya jauh kurang mengembangkan pertanian yaitu perkebunan karet dibandingkan dengan indonesia. Pada waktu itu kaum eropa sebagai kaum perintis justru memberdayakan perkebunan tebu dan kopi. Di lain pihak cara serta metode yang diterapkan mengakibatkan terkurasnya kesuburan tanah, keadaan ini ditambah lagi dengan merosotnya harga pasaran kopi setelah tahun 1894. Sehingga dengan berbagai permasalahan yang dihadapi para pekebun kopi dan tebu mendorong secara luas peralihan ke arah perkebunan karet. Dengan benih pohon karet banyak tersedia di kebun raya (botanical gardens) di singapore, dimana sudah ditemukan cara atau tekhnik penyadapan karet yang relatif baru. Pada awal abad ke 20 terjadi suatu hal dimana kaum perintis perkebunan eropa, yang sumber dananya terbatas terpaksa menjual perseroan yang baru saja didirikan. Dengan hal tersebut kaum cina tertarik untuk mengembangkan perseroan tersebut tapi dengan sistem persekutuan keluarga dan persekutuan individu. Sektor perkebunan pertanian karet milik petani kecil di Malaya tahun 1910 mengalami perteumbuhan yang tidak terlalu jauh dengan perusahaan perkebunan, para pekebun tersebut berasal dari cina dan melayu (termasuk indonesia) yang merupakan pemelopor tingginya pendapatan petani kecil.
            Di Malaya lahan sebagian besar digunakan untuk perkebunan karet, tanpa diselingi tanaman pangan, sedangkan pohon karet mencapai tahap penyadapan dalam 5-6 tahun, penyebaran perkebunan karet ini sebagian besar berpusat di semenanjung Malaya. Walaupun harga mulasi merosot setelah lonjakan harga pasaran pada tahun 1909 – 1912 perluasan tanaman karet terus berkembang baik di Malaya maupun di Indonesia. Pada zaman perang dunia 1914 – 1919 yang ditandai oleh perluasan tanaman karet, ketika harga karet meningkat karena bertambahnya permintaan dari amerika yang digunakan untuk perlengkapan menghadapi perang dunia. Sementara itu Belanda yang tetap bersikap netral mengakibatkan tidak berlaku pembatasan akibat keadaan perang terhadap industri karet di Indonesia. Sementara sebaliknya di Malaya ekspor bahan mentah yang strategis termasuk karet harus mengindahkan atau tunduk terhadap kewajiban pemerintah inggris, sedadangkan perseroan yang mengeluarkan dana berupa sterling tidak dapat mengeluarkan saham baru. Kenaikan yang sangat tinggi terjadi setelah kenaikan terjadi perang yaitu ketika perekonomian dunia barat mengalami depresi sekitar tahun 1920 sampai 1928. Dan setelah itu harga karet menurun drastis mencapai 7 penny per lb.
            Akibat sistem pembatasan ekspor yang diterapkan pemerintah inggris di malaya mengakibatkan penstabilan harga karet yang mencapai sekitar 3 shilling per lb, tapi harga karet merosot lagi selama tahun 1920 an, yang berimbas pada semakin digrogotinya industri karet oleh indonesia. Sehingga pada akhirnya pemerintah inggris menetapkan kebijakan barunya yaitu menghapus peraturan pembatasan ekspor pada akhir tahun 1928. Pertumbuhan industri karet seakan-akan terhenti saat tahun 1930 an ketika depresi besar bangsa eropa yang menimbulkan masalah yang labih gawat mengenai kapasitas produksi yang berlebihan, daripada yang dialami pada 1920 an. Harga karet di london jatuh dari 10 penny per pound pada tahun 1929 dan terus menurun sampai samapi 2 penny per pound pada tahun 1923. Begitupun di indonesia nilai ekspor merosot dari 587 juta gulden tahun 1925 samapai hanya 34 juta gulden pada tahun 1932. Setelah perundingan yang lama akhirnya perjanjian internasional pengaturan karet internasional mulai berlaku pada pertengahan tahun 1934, dengan menurunkan seluruh produksi dari negara penghasil karet alam di asia selatan maupun tenggara, perjanjian itu pada awalnya berlaku sampai tahun 1938, kemudian diperbaharui sampai tahun 1943 ( 5 tahun), dan pada akhirnya terputus karena pecah perang dengan jepang.

Sikap Terhadap Pembangunan
Pada waktu depresi tahun 1920-1922 dan tahun 1929-1932 yaitu dengan bertimbunnya persediaaan  karet di asia maupun di negara-negara industri maju. Hal ini menimbulkan efek positif dan negatif bagi petani kecil. Kemudian untuk selanjutnya hasil budidaya karet dipandang menguntungkan, sehingga pada akhir abad ke 19, motivasilah yang mendorong untuk mengembangkan perkebunan keret ini, karena dengan motivasi tersebut dianggap dengan hasil yang didapat daqri perkebunan karet dapat membangun negara induk. Cara yang dipergunakan adalah dengan mengeksploitasi seluruh sumber daya yang tersedia oleh perusahaan kapital berskala besar. Sebagian besar perusahaan ini berasal daqri eropa dan dari negara induk jajahan.
            Pertumbuhan pesat dari sektor perkebunan memberikan makna bahwa lahan yang digunakan berstatus lahan bumiputera sementara modal yang digunakan dan pegawainya berasal dari eropa sedangkan pekerjanya terdiri atas kaum pendatang.  Di indonesia selama abad 19 kaum belanda telah beralih kebijakan dari penarikan komoditi ekspor ke kebijakan paksaan (tanam paksa). Setelah belanda menikmati kekayaan dari bumiputera pada akhirnya belanda menerapakan kebijakan politik etika yang bertujuan menahan kearah penderitaan dan kurang kesejahteraan kaum bumi putera. Hal ini mengakibatkan masalah bagi kaum cina yang mengalami hambatan seperti kebebasan bergerak didaerah pedesaan, dari kebijakan belanda tersebut juga memasukan kaum bumiputera menjadi tenaga buruh untuk awal penelitian karet.
            Dari keadaan demikian rasanya kurang begitu menguntungkan kaum pribumi hal ini didasari semua perekrutan tenaga pekerja di luar jawa. Sementara di malaya diberlakukan sistem kebebasan. Sementara itu di Melaya budidaya tanaman karet merupakan insiatif sendiri dari penduduk pribumi, disamping menanam bahan pangan mereka menanam karet, sehingga lahan kosong dapat dimanfaatkan dengan sebaiknya, hal ini menimbulkan kerisauan pada pemerintahan inggris, karena mereka kawatir tanah pusaka mereka akan tersedot untuk tanaman karet, sehingga pemerintah inggris menetapkan peraturan mengenai pembatasantanaman karet dan mengalihkan mereka ke tanaman pangan. Dengan penghasil karet terbesar di dunia yaitu malaya dan indonesia dan seiring peristiw depresi berat pasca perang eropa menjadikan Malaya dan Indonesia menjadi sumber pendapatan yang tinggi, dan seiring berjalannya waktu terdapat desakan dari negara eropa laiannya untuk inggris dan belanda menandatangani perjanjian internasional.

Perbandingan Pengalaman
Dalam masalah tanah, khususnya di indonesia orang eropa menyewa tanah kosong kepada pemerintah ataupun pihak kerajaan, sementara sewa tanah beragam bergantung kesepakatan, biasanya sewa tanah berat ini terjadi dengan kesepakatan pihak kerajaan, yang menetapkan berbagai persyaratan yang lumayan tinggi. Bahakan di pulau jawa hampir tidak ada kebun karet tani kecil, karena keadaan tanah kosong berarti ini disediakan hanya untuk perusahaan eropa yang umumnya disetujui oleh pemerintah, sehingga kebun tani kecil terdapat pada daerah pinggiran. Hal inilah yang menyebabkan kejengkelaan dan terjadi pemberontakan sporadis karena ketidak adilan pemerintah, hal ini marak terjadi di daerah sumatra dan kalimantan dimana pemerintah membuka tanah yang besar dan tidak dipertimbangkan.
            Sebaliknya di malaya pihak penata tanah menyediakan hak guna usaha khusus bagi penduduk bumiputera yang diperkenankan mengusahakan sebidang tanah kurang dari 4 hektar dengan hak mewariskan dan menjual tanah itu, bahkan juga boleh digunakan untuk jaminan atas uang pinjaman sewa tanah rendah meskipun lebih daripada yang dikenankan untuk perusahaan perkebunan.
            Perbedaan lain adalah dibidang perwalian yang berlaku di malaya, atas dasar ini dikecualikan adalah karet. Dalam beberapa hak guna usaha dan kemudian pula dalam UU cadangan tanah malaya. UU ini benar menguntungkqn dalam menyediakan khusus untuk orang melayu namun kurang berhasil dalam menekan penanaman karet di lahan orang melayu, hal ini mengingat harga atau laba yang didapat besar. Sementara di indonesia pemerintah menanam keras penanaman karet di nlahan pertanian deiring dengan disepakatinya perjanjian internasional.
            Dalam hal tenaga kerja, kebutuhan tenaga kerja di permulaan penanaman perkebunan karet membengkak, hal ini disebabkan karena masih menggunakan metode tradisional yang membutuhkan banyak tenaga kerja, selain itu juga terdapat atau ada penyediaan tenaga kerja cadangan untuk menggantikan tenaga kerja yang sakit. Sementara itu tenaga kerja diwilayah sumatera dari kalangan pribumi tidaqk ada, hal ini didasari mungkin penduduk tersebut sudah mendapatkan untung besar dengan menggarap lahannya sendiri, daribada bekerja sebagai buruh sehingga pekerjanya didatangkan dari pulau jawa.
            Sementara di malaya buruh tamil yang akan dipekerjakan di kebun karet didatangkan dari daerah hindia selatan yang dikuasai inggris, dengan cara legal, atau agen resmi pengiriman imigran. Kaum pendatang dari india tersebut datang ke malaya tanpa terbeban oleh hutang dan tanggungan berbeda dengan kaum pendatang yang di kirim pemerintah belanda ke sumatera.
            Prasarana, pembangunan akses transportasi juga dibangun di malaya dan sumatera, dalam hal ini pembangunan ini lebih baik keadaannya di jawa karena di jawa ditentukan daerah strategis dan persyaratan lain yaitu kesuburan tanah. Dijawa juga dibangun prasaran yang sangat memadai, berbeda dengan di sumatera hanya melalui aliran sungai. Di malaya baik letak kebun karet terletak dekat dengan jalan raya yang juga digunakan untuk mengangkut pertambangan, sehingga pembangunan mencapai seluruh malaya barat tahun 1910.
            Teknologi, seiring dengan berkembangnya waktu terdapat pengembangan teknologi di keduanya yaitu malaya dan indonesia, tapi dalam perjalannannya ternyata mengambil langkah sendiri, di indonesia di kembangkan sistem budidaya yang terdapat di kebun raya bogor, ini dilakukan untuk menghasilkan bibit berkualitas baik dari amerika selatan, kemudian untuk meningkatkan mutu dari karet tersebut, mereka bekerjasama de3ngan pihak swasta untuk melakukan penelitian-penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan mutu. Sementraa di malaya sebenarnya terdapat temnpat pembudidayaan yaitu di kebun raya singapore, tetaqpi oleh pemerintah inggris tidak terlalu diperhatikan dan akhirnya melakukan penelitian tersendiri untuk meningkatkan mutu dari perkebunan karet, yang kemudian muncul penelitia swasta dari eropa yang melakukan penelitian serta eksperimen untuk digunakan sebagai bahan komersil.
            Pengaturan, telah disaksikan bahwa pengaturan pengadaan karet dengan tujuan mengukuhkan harganya telah mendapatkan perhatian namun hal ini tidak di indahkan oleh pemerintahan belanda di indonesia. Yaitu peraturan sterverson, sementara inggris memperhatikan peraturan tersebut. Ada beberapa alasan yang melandasi pemerintahan belanda tidak mematuhi hal tersebut karena anggapan resmi mengenai kebebasan tani kecil mempunyai kebebasan, kemudian keraguan terhadap pembatasan kebun tani kecil yang cukup luas, dan bertambahnya perlawanan politik rakyat daerah terhadap belanda.
            Perpajakan, di indonesia pajak utama dibebankan pada produsen karet yaitu pajak laba atas perseroan tersebut. Pajak yang dipungut atas pembelian tanah kecil serta tanah lainnya, pada tahun 1930 pemerintah yang dihadapkan pada kesulitan keuangan yang parah, mulai memungut pajak ekspor sebesar 5 %, kemudian setelah berlakunya perjaqnjian internasional di adakan pajak istimewa yang berkisar sampai 50 % dari dari laba rata-rata karet di daerah produksi karet. Sementasra di malaya dari semua dipungut biaya sebanyak 2,5 % - 3,0 % dari semua ekspor karet. Digabungkan dari premi dan sewa tanah yang dipungut dari tanah tani kebun karet, dan ini menjadi pendapatan negara yang vital. 

by ; M Mahfud Mudthofa (Penyadur)